AYOJAKARTA.COM -- Menurut hasil suvei yang dilakukan Poltracking Indonesia, pasangan Rido menempati urutan pertama peraih elektabilitas di Pilkada Jakarta.
Unggul dari pasangan Pramono-Rano yang memperoleh 31,5 persen suara, Pasangan Rido memiliki elektabilitas di Pilkada Jakarta mencapai 47,5 persen.
Berdasarkan hasil survei, sebanyak 5,1 persen warga memilih pasangan Dharma-Kun dan 15, 9 persen lebih memilih tidak tahu harus memilih siapa di Pilkada Jakarta.
Terkait dengan hasil perolehan suara para paslon, Hanta Yuda selaku Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia memberikan tanggapan.
Menurut Hanta, tingginya peroleh suara yang dialami oleh pasangan Rido disebabkan oleh tingginya popularitas.
Berbeda dengan pasangan Pramono-Rano yang mendeklarasikan diri di menit-menit akhir, Ridwan Kamil justru lebih dahulu dikenal oleh publik.
Namun demikian, Hanta menilai perolehan hasil survei pasangan Pramono-Rano yang mencapai hingga 31,5 persen merupakan hal cukup mengejutkan.
Tingginya perolehan pasangan Pramono-Rano, menurut Hanta bisa disebabkan karena efek elektabilitas warga Jakarta terhadap Ahok dan Anies Baswedan.
Oleh karena itu, Hanta menilai proses kontestasi Pilkada Jakarta akan berlangsung relatif lebih alot dibandingkan dengan perhitungan kertas.
“31,5 persen itu modal yang besar, dan apakah RK akan menang mudah, menurut saya tidak, belum tentu menang karena belum bisa diprediksi,” jelas Hanta.
Masa kampanye yang masih berjalan hingga dua bulan mendatang, menurut Hanta akan menjadi kesempatan besar bagi masing-masing paslon untuk tampil lebih maksimal.
Disparitas waktu dua bulan kedepan, menurut Hanta akan mempengaruhi konstelasi dan dinamika politik sehingga kemenangan akan menjadi semakin sulit untuk diprediksi.
Meski pasangan Rido mendapat suara tertinggi dengan 47,5 persen, Hanta menilai justru telah terjadi perolehan secara personal terhadap Ridwan Kamil.
Berbanding sebelum berpasangan dengan Suswono, elektabilitas Ridwan Kamil di Pilkada Jakarta justru tercatat sempat mencapai angka 48,9 persen.
Sementara elektabilitas Pramono Anung justru mengalami peningkatan hingga mencapai 11 persen setelah berpasangan dengan Rano Karno.
Pemilihan figur cawagub juga dinilai oleh Hanta cukup kontributif dengan suara calon gubernur yang berlaga di Pilkada Jakarta.
Hanta mencatat, salah satu fenomena yang terjadi dua bulan sebelum perhelatan Pilkada Jakarta masih cukup cair sehingga masih memungkinkan lahirnya banyak variabel.
Selain itu, jarak perolehan elektabilitas yang dimiliki pasangan Pramono-Rano dengan Rido, menurut Hanta bisa menjadikan pertarungan Pilkada Jakarta menjadi sangat kompetitif.
“Jadi menurut saya, angka ini bukan angka yang rendah,” jelas Hanta.***