Metropolitan

Ramai Gerakan Coblos 3 Paslon di Pilkada Jakarta 2024, Pengamat Politik: Anak Abah Terbagi dalam 3 Golongan Ini

Oleh: Dyah Arum Ratri Kamis 19 Sep 2024, 14:59 WIB
Munculnya gerakan coblos 3 paslon ini lantaran para pendukung Anies yang kecewa usai Anies Baswedan dinyatakan gagal maju Pilkada Jakarta.

AYOJAKARTA.COM -- Seruan coblos 3 paslon jelang ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2024 terus menggema.

Munculnya gerakan coblos 3 paslon ini disebut-sebut berasal dari kelompok para pendukung Anies Baswedan.

Disinyalir, munculnya gerakan coblos 3 paslon ini lantaran para pendukung Anies yang kecewa usai Anies Baswedan dinyatakan gagal maju Pilkada Jakarta 2024.

Baca Juga: Beda Strategi dan Pendekatan Dalam Meraih Dukungan Pilkada Jakarta, Ridwan Kamil Mulai Menyindir Pramono-Rano?

Sebagaimana diketahui, Anies Baswedan memang memiliki elektabilitas tinggi dimana masih banyak para pendukungnya atau biasa disebut ‘Anak Abah’ yang tetap setia memberikan dukungan.

Lantas, sebenarnya upaya apa yang dapat dilakukan untuk menanggapi gerakan coblos 3 paslon di Pilkada Jakarta 2024 ini?

Dikutip dari tayangan Youtube tvOneNews pada Kamis, 19 September 2024, Agung Baskoro selaku Pengamat Politik memberikan tanggapannya.

Baca Juga: Heboh Gerakan Anak Abah Coblos 3 Paslon di Pilkada Jakarta 2024, Peneliti SMRC: Itu Gerakan Wajar

Dalam menyikapi gerakan ‘Coblos 3 Paslon’ ini menurut Agung adalah KPU dan jajarannya sebaiknya yang utama di endorse.

“Yang perlu di endorse sebenarnya ada 3 aktor ya, jadi kalau saya melihat ketika ada situasi dimana kotak kosong atau 3 pasang dicoblos oleh semua pemilih,” terang Agung Baskoro.

“Maka yang perlu di endorse utama itu penyelenggaranya dulu, KPU, Bawaslu, dan seterusnya,” imbuhnya.

Baca Juga: Gagal Maju Pilkada Jakarta 2024, Kemana Pendukung Anies Baswedan Akan Berlabuh? Ini Kata Pengamat

Tujuan dari pentingnya mengendorse KPU dan jajarannya terlebih dahulu adalah agar masyarakat bisa tertarik dengan kompetisi Pilkada ini.

“Supaya apa? Supaya gak kebobolan, caranya bagaimana kemudian mensosialisasikan Pilkada Jakarta itu semenarik mungkin semeriah mungkin,” jelas Agung.

“Bahkan bila perlu mobil-mobil sound yang atraktif menarik itu keliling sampai ke RT RW supaya apa, supaya sosialisasi pemilu ini bisa sampai ke akar rumput,” tambahnya lagi.

Kemudian, mencegah adanya gerakan coblos 3 paslon ini juga bisa dilakukan dengan edukasi insentif agar nantinya pemilih tertarik datang ke TPS.

Baca Juga: Meski Gagal Berlaga di Pilkada Jakarta, Dukungan Suara Pendukung Anies Baswedan Semakin Menjadi Rebutan

“Yang kedua edukasi insentif ataupun semacam pemanis lah supaya pemilih itu memang datang ke TPS dari sisi penyelenggaranya,” himbau Agung.

Selanjutnya, dari sisi para kandidat, sebaiknya bisa mensosialisasikan berbagai program yang tentunya dibutuhkan masyarakat Jakarta saat ini dan kedepannya.

“Kemudian dari sisi kandidatnya yang paling penting adalah bagaimana kandidat-kandidat ini bisa mensosialisasikan program-program yang sesuai dibutuhkan masyarakat di Jakarta,” terang Agung.

Baca Juga: Pilkada Jakarta 2024 Sebentar Lagi! Dari Ketiga Paslon Mana yang Bisa Mengambil Hati Warga Khususnya Jakmania? Ini Jawaban Pakar Komunikasi Politik

Pengamat Politik tersebut juga menjelaskan jika kelompok ‘Anak Abah’ ini terbagi menjadi 3 golongan.

“Sering bilang anak abah ini terpresentasi dalam 3 golongan,” ujar Agung Baskoro.

Ketiga golongan tersebut diantaranya kritis atas pemerintahan Jokowi, puas dengan kinerja Anies, dan islam perkotaan.

Baca Juga: Anies Baswedan Gagal Maju di Pilkada Jakarta 2024, Direktur LSI Ungkap Alasan Pendukung Anies Akan Jadi Rebutan Kedua Paslon

“Pertama yang memang kritis dalam pemerintahan Jokowi, yang kedua puas dengan kinerja Anies, yang ketiga islam perkotaan,” beber Agung.

Lebih lanjut ia menyebut, “Nah semua kandidat yang ada yang berkompetisi di program yang merepresentasikan tiga itu, islam perkotaan, pemilik kritis terhadap pemerintahan hari ini dan yang memang puas dengan program Anies.”***

Reporter Dyah Arum Ratri
Editor Eneng Reni Nuraisyah Jamil