Metropolitan

Gerakan Tusuk Tiga Calon Alias Golput Merebak Jelang Pilkada Jakarta, Pengamat Tantang Paslon Lakukan Hal Ini

Oleh: Karseno AJ Senin 09 Sep 2024, 13:11 WIB
Ilustrasi. Gerakan tusuk tiga calon alias golput dalam Pilkada Jakarta lahir karena absennya Anies Baswedan dalam deretan peserta.

AYOJAKARTA.COM – Gerakan tusuk tiga calon alias golput, merupakan bentuk kulminasi kritik atas situasi politik menjelang Pilkada Jakarta.

Selain berangkat dari kekecewaan, golput dalam Pilkada Jakarta lahir karena absennya Anies Baswedan dalam deretan peserta.

Meski berpengaruh pada hasil elektoral, golput merupakan realitas politik yang tidak dapat disanggah dalam Pilkada Jakarta 2024.

Pernyataan terkait fenomena golput untuk Pilkada Jakarta tersebut, merupakan pandangan dari Effendi Gazali selaku Pakar Komunikasi Politik.

Sebagaimana menjadi sorotan, tidak adanya nama Anies Baswedan dalam kertas surat suara menjadi pukulan telak bagi jutaan pendukungnya yang tersebar luas di Jakarta.

Baca Juga: Pramono Anung Buka Suara Usai Bertemu dengan Prabowo dan Puan Maharani Jelang Pilkada Jakarta 2024

Menurut Effendi, dampak dari gerakan tusuk tiga paslon tersebut dapat berimplikasi langsung terhadap perolehan suara peserta Pilkada Jakarta.

Terkait dengan figur pasangan cagub-cawagub yang diprediksi memetik dampak, Effendi menilai keluarga Sabeni akan diuntungkan meski perolehan suara minimal.

Salah satu penyebab keluarga Sabeni akan memetik hasil, menurut Effendi karena PKS yang merupakan basis terbesar suara di Jakarta sudah meninggalkan Anies.

Namun demikian, Effendi menilai persoalan utama yang perlu menjadi perhatian adalah komitmen bagi pemenang Pilkada untuk tetap menjabat selama masa periode.

Dengan kepastian posisi selama menjabat, maka peluang bagi pasangan cagub-cawagub diganti di tengah jalan karena alasan politis dapat terhindarkan.

Baca Juga: Muncul Fenomena Kotak Kosong di Pilkada 2024, Begini Respon Ganjar Pranowo

Sebagaimana Anies yang bersedia untuk tetap memimpin Jakarta hingga akhir masa jabatan, Effendi menilai komitmen tersebut perlu dipertanyakan kepada ketiga paslon.

“Saya mau tantang, berani nggak ketiga paslon ini mendeklarasikan akan setia di Jakarta sampai lima tahun, sehingga kita dapatnya orang lain yang sudah disiapkan?” ungkapnya, dikutip dari kanal YouTube tvOneNews pada Senin, 9 September 2024.

Desakan berkomitmen hingga akhir masa jabatan, menurut Effendi penting dilakukan mengingat dua paslon di Pilkada Jakarta dianggap sebagai perpanjangan status quo.

Sehubungan dengan tantangan yang disampaikan oleh Pakar Komunikasi Politik, tim sukses paslon Dharma-Kun memberi tanggapan.

Menurut Siti Fadila Supari, perspektif politis dan ideologis pasangan Dharma-Kun lebih kepada memimpin Jakarta sehingga dapat dipastikan akan setia dengan hasil Pilkada.

Baca Juga: Anies Baswedan Gagal Melenggang ke Pilkada Jakarta 2024, Lalu Pemilihnya akan Berlayar ke Mana? Ini Kata Ray Rangkuti!

Selain diungkapkan oleh Siti, tantangan untuk berkomitmen juga disampaikan oleh Aris Setiawan Yodi selaku Jubir pasangan Pramono-Rano.

Berpijak pada rekam jejak selama menjabat sebagai Sekretaris Kabinet, Aris menilai Pramono-Rano merupakan sosok yang amanah dan memiliki integritas.

Sementara menurut M. Kholid selaku Jubir pasangan Rawon, sosok Ridwan Kamil dan Suswono sudah terbiasa menuntaskan tanggung jawab selama menjabat.***

Reporter Karseno AJ
Editor Tedi Rukmana