AYOJAKARTA.COM - Gempa Megathrust menjadi salah satu jenis bencana yang mengancam kehidupan di Indonesia.
Bukan tanpa alasan, gempa Megathrust diketahui bisa mengakibatkan terjadinya gelombang tsunami.
Khususnya di pesisir selatan Pulau Jawa, bayang-bayang gempa Megathrust terus saja menghantui dari hari ke hari.
Baca Juga: Terenyuh! Penasihat Hukum Ungkap Kondisi Terkini Keluarga Ricky Rizal: Sudah Patah Semangat...
Sehubungan dengan hal tersebut, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, sempat memberi peringatan kepada masyarakat tentang zona kosong di sepanjang selatan Jawa dan Sumatera.
Dikutip AyoJakarta.com dari akun Twitter @DaryonoBMKG, disebutkan bahwa gempa berkekuatan dahsyat dengan Magnitudo di atas 7,5 telah terjadi berkali-kali sejak tahun 1700.
Gempa-gempa ini terjadi di sepanjang pesisir Selatan jawa dan Sumatera yang diketahui sebagai zona subduksi Megathrust, juga di sekitar kepulauan Maluku.
Sementara itu, ada beberapa zona kosong yang menurut Daryono patut diwaspadai karena belum pernah terjadi gempa besar pada daerah tersebut.
“Di Indonesia sudah terjadi gempa dahsyat lebih dari 16 kali sejak 1700an. Zona kekosongan gempa besar di zona megathrust di peta ini patut diwaspadai,” tulis Daryono sambil melampirkan gambar.
Baca Juga: Bicara soal Kemungkinan Richard Eliezer Kembali ke Brimob, Kapolri: Peluang itu Ada!
Daryono menandai lingkaran pada gambar sebagai zona kekosongan gempa yang dinilai patut untuk diwaspadai.
Melalui kolom komentar, ada seorang warganet yang bertanya apakah bagian Selatan Jawa Tengah termasuk dalam zona yang perlu diwaspadai.
“Selatan Jawa Tengah kosong juga, perlu waspada?” tanya seseorang.
“Kidul jateng sampun sering lepas dlm sejarah,” jawab Daryono yang berarti bahwa bagian Selatan Jawa Tengah sudah sering lepas dalam sejarah.
Zona Subduksi Megathrust
Dikutip AyoJakarta.com dari kanal YouTube Gempa ITB, Megathrust diketahui sebagai bidang gempa yang sangat besar pada pertemuan dua jenis lempeng tektonik.
“Megathrust merupakan bidang gempa yang sangat besar yang terletak tepat pada pertemuan lempeng samudera dan lempeng benua,” ungkapnya.
Pertemuan antara dua lempeng ini akan membentuk bidang yang kemudian dinamakan dengan gempa Megathrust.
Baca Juga: Siap-siap! Kebijakan Baru Menkes Jadikan BPJS Tak Berkelas, Tak Perlu Was-was Berikut Penjelasnya
“Ketika kedua lempeng tersebut bertemu, lempeng samudera menghujam terus ke bawah dan akan membentuk bidang kontak dengan lempeng benua yang disebut bidang megathrust,” jelasnya.
Bidang Megathrust inilah yang kemudian akan mengakumulasikan energi selama puluhan hingga ratusan tahun dan berpotensi meledak sewaktu-waktu.***