AYOJAKARTA.COM – Anies Baswedan yang sudah mengantongi tiket menuju Pilpres 2024 dengan mendapatkan dukungan dari Partai Nasdem, Demokrat dan PKS tiba-tiba saja dinilai oleh Pakar Politik ada dukungan yang ditahan oleh Partai Nasdem.
Sebelumnya syarat untuk mendapatkan tiket Pilpres 2024 adalah minimal mendapat 20% dukungan dari kursi DPR atau 25% dari suara nasional, Anies Baswedan sudah memenuhi ambang batas dukungan kursi DPR.
Anies Baswedan memiliki dukungan dari Partai Nasdem sebesar 10,20%, Partai Demokrat 9,39%, dan PKS 8,70% sehingga jumlahnya sudah melebihi ambang batas yaitu 28,35%.
Pakar Politik Burhanuddin Muhtadi mengungkap bahwa ada pertemuan antara Surya Paloh dengan Presiden Jokowi.
Pertemuan inilah yang memicu Partai Demokrat dan PKS untuk mendeklarasikan diri mendukung Anies Baswedan menjadi Capres 2024.
“Setelah pertemuan Surya Paloh dan Pak Jokowi, langsung ada semacam gas pol dari Demokrat dan PKS untuk mendeklair Anies dan tanpa riset mendukung Anies meskipun tidak mesyaratkan kadernya atau ketua umumnya sebagai Cawapres Anies,” kata Burhanuddin Muhtadi.
“Alih-alih setelah pertemuan tersebut menyambut gembira tawaran dari Demokrat untuk membentuk sektor maupun PKS, tetapi yang terjadi sepertinya kok NasDem justru malah mendekat ke partai koalisi pemerintah yang lain,” lanjutnya.
Baca Juga: Sang Ayah Bersiap Dapat Vonis Hukuman, Trisha Eungelica Justru Unggah Pesan Cinta pada Sosok Ini
Burhanuddin Muhtadi mengamati NasDem justru melakukan pertemuan dengan partai lain yang dinilai merupakan sebuah pendekatan, seperti pertemuannya dengan Airlangga dan Luhut Panjaitan dari Partai Golkar.
“Jadi sepertinya kok tidak ada selebrasi atas tawaran Demokrat dan PKS untuk merayakan Anies sebagai Capres bersama,” kata Burhanuddin Muhtadi.
Dari hal itulah kemudian Burhanuddin Muhtadi sebagai pengamat politik merasa bahwa pihak Airlangga atau pihak NasDem menaha diri untuk mendukung Anies Baswedan.
“Nah mungkin si situ Airlangga menahan diri untuk bergerak lebih jauh untuk mengusung Anies sebagai Capres bersama dengan koalisi perubahan,” ujar Burhanuddin Muhtadi.
Padahal menurutnya Koalisi Perubahan sudah berada 2 langkah lebih depan dibandingkan dengan koalisi partai lain.
Hal ini dikarenakan ketiga partai tersebut sudah mempunyai kesepakatan mengenai Capresnya, kesepakatan mengenai Capres ini belum dimiliki oleh koalisi partai lainnya.
“Memang NasDem sepertinya masih tanda kutip, belum terlalu menyambut tawaran dari Demokrat untuk membentuk kesekertariatan bersama atau PKS bahkan deklarasinya berdiri sendiri, tetapi paling tidak lebih clear ketimbang yang lain,” kata Burhanuddin Muhtadi.
Ketika sudah ada kesepakatan dari NasDem, Demokrat dan PKS perihal Anies Baswedan yang akan menjadi Capres maka ini membuat koalisi partai lain menghitung secara rasional dan tidak akan mencalonkan Capres yang lebih lemah dari Anies.***