AYOJAKARTA.COM – Berada di antara dua Kabupaten Malang dan Lumajang Jawa Timur, Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di pulau Jawa.
Dengan ketinggian mencapai 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl), Gunung Semeru merupakan jenis gunung berapi kerucut atau Strato Volcano.
Selain dikenal karena puncak Mahameru yang menawarkan panorama indah, Gunung Semeru tercatat sebagai gunung dengan aktivitas erupsi tinggi.
Baca Juga: Gunung Semeru Kembali Erupsi! Awan Panas Masih Berlangsung sampai Saat Ini
Dikutip dari KBBI, erupsi dalam pengertian dan konteks geografi adalah letusan gunung api atau semburan minyak dan uap panas.
Sebagai negara yang dikelilingi dengan ratusan gunung berapi aktif atau Ring Of Fire, rakyat Indonesia tentu tidak asing dengan fenomena erupsi gunung berapi.
Meski seringkali fenomena alam tersebut menyebabkan dampak, baik material fisik sampai merenggut korban jiwa.
Seperti halnya yang terjadi dengan gunung Semeru pada Minggu, 4 Desember 2022 pada jam 02.46 WIB.
Baca Juga: Pendak Setahun, Erupsi Gunung Semeru Pernah Terjadi Pada Bulan dan Tanggal yang Sama, Ada Apa?
Dilansir dari halaman magma.esdm.go.id pada Minggu, 4 Desember 2022, aktivitas erupsi Gunung Semeru tercatat sudah sebanyak 33 kali.
Sementara catatan histori erupsi gunung Semeru baru dicatat pertama kali pada dua abad yang lalu, atau pada tahun 1818.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat beberapa aktivitas vulkanik terjadi beruntun sekitar tahun 1945 sampai 1967.
Pada rentang antara tahun 1967 sampai 1969 dan 1972 sampai 1990 terjadi letusan beruntun yang terjadi.
Erupsi yang terjadi pada tahun 1990, kemudian membuat kubah Kawah Jonggring Saloko terbuka hingga saat ini.
Baca Juga: Status Gunung Semeru Ditingkatkan Menjadi AWAS (Level IV): Tidak Ada Aktivitas Radius 8 KM
Pada tahun 1992 terjadi letusan stromboli atau letusan yang relatif ringan, letusan disertai hujan abu dan lava terjadi pada tahun 1994.
Pada tahun 2002, status gunung Semeru yang semula normal ditingkatkan menjadi waspada Semeru.
Pada periode tahun 2004 hingga tahun 2008 terjadi luncuran awan panas atau yang akrab disebut Wedhus Gembel.
Pada periode tahun 2016 hingga tahun 2019, lelehan lava pijak dengan jarak mencapai 2,5 kilometer terjadi.
Di tahun 2019, erupsi dengan ketinggian abu hingga mencapai 600 meter dari atas puncak Semeru terjadi.
Baca Juga: Gunung Semeru Erupsi, Jepang Antisipasi Tsunami di Prefektur Okinawa
Akibat dari peristiwa ini suasana langit biru di sekitar gunung Semeru berubah menjadi gelap karena tertutup debu.
Pada tahun 2021, kembali terjadi erupsi berupa guguran awan panas dan membuat kecamatan Pronojiwo dan Candipuro menjadi gelap gulita.***