Nasional

Putri Candrawathi Ngaku Malu dan Merasa Lebih Baik Mati Usai Dilecehkan

Oleh: Redaksi Jumat 02 Sep 2022, 16:46 WIB
Putri Candrawathi.

AYOJAKARTA.COM - Putri Candrawathi mengaku malu dan merasa lebih baik mati karena kasus dugaan pelecehan seksual.

Putri Candrawathi, menjadi salah satu tersangka dalam kasus kematian Brigadir J.

Tersangka lain dalam kasus tersebut tak lain adalah suami dari Putri Candrawathi sendiri, yakni Ferdy Sambo.

Baca Juga: Reka Adegan, Putri Candrawathi Tidur di Samping Kuat Maruf, Ini yang Dilakukan Keduanya

Ferdy Sambo menjadi pelaku utama dalam kasus kematian Brigadir J.

Terkini, Putri Candrawathi mendatangi Komnas Perempuan dan mengadu terkait dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Brigadir J di Magelang, Jawa Tengah.

Demikian seperti yang diberitakan Pikiran-Rakyat.com dalam artikel "Istri Ferdy Sambo Mengadu ke Komnas Perempuan Usai Ngaku Dilecehkan di Magelang: Malu, Lebih Baik Mati".

Baca Juga: Kata Mbah Moen di Umur Inilah Seseorang Sudah Harus Menikah, Jika Tidak Inilah Akibatnya!

Dalam pengakuan itu, dia juga mengungkapkan alasannya mengapa enggan melaporkan kejadian yang menimpanya tersebut.

Rasa malu dan posisinya sebagai istri salah satu petinggi Polri pun disebut menjadi alasan mengapa kasus dugaan pelecehan seksual itu tidak dilaporkan.

Ketua Komnas Perempuan Andy Yentriyani pun menuturkan bahwa pihaknya menemukan ada petunjuk-petunjuk awal yang perlu ditindaklanjuti oleh pihak penyidik terkait dugaan tersebut.

"Kami Perlu menegaskan bahwa keengganan pelapor untuk melaporkan kasusnya sedari awal itu karena memang merasa malu," ucap Andy Yentriyani di gedung Komnas HAM, Kamis, 1 September 2022.

Baca Juga: Rezekimu Masih Susah dan Seret? Kata Mbah Moen Ternyata Kamu Masih Sering Lakukan 3 Kebiasaan Ini di Rumah

"Dalam pernyataannya ya, merasa malu, menyalahkan diri sendiri, takut pada ancaman pelaku, dan dampak yang mungkin mempengaruhi seluruh kehidupannya," katanya menambahkan.

Apalagi, posisinya sebagai istri salah satu petinggi Polri juga menjadi alasan Putri Candrawathi ogah melaporkan dugaan pelecehan seksual itu.

"Dalam kasus ini, posisi sebagai istri dari seorang petinggi kepolisian pada usia yang jelang 50 tahun, memiliki anak perempuan, maupun rasa takut pada ancaman dan menyalahkan diri sendiri sehingga merasa lebih baik mati, ini disampaikan berkali-kali," ujar Andy Yentriyani.

Dari kejadian itu, dia pun menekankan perlunya dipikrikan ulang terkait relasi kuasa antara atasan dan bawahan dengan kasus pelecehan seksual.

Menurut Andy Yentriyani, relasi kuasa ini tidak cukup untuk serta-merta menghilangkan kemungkinan terjadinya tindakan tidak pantas tersebut.

Baca Juga: Kuat Maruf Keluar Kamar Putri Candrawathi Sambil Mengancam, 2 Pisau Jadi Barang Bukti

"Dan karena itu kita perlu memikirkan ulang bahwa relasi kuasa antara atasan dan bawahan saja tidak cukup untuk serta merta menghilangkan kemungkinan terjadinya kekerasan seksual," ujarnya.

"Karena relasi kekuasaan itu sesungguhnya sangat kompleks dan dapat dipengaruhi oleh konstruksi gender, usia, maupun juga kekuasaan-kekuasaan lainnya," ucapnya.

"Mitos tentang kekerasan seksual terkait relasi kuasa korban dan pelaku, lokasi kejadian, tuduhan kekerasan seksual sebagai hubungan suka sama suka ataupun sikap lain yang menyalakan korban ini kerap juga akan menjadi tantangan tersendiri," tutur Andy Yentriyani menambahkan.

Tidak hanya hubungan relasi kuasa, ketidakpercayaan publik terhadap laporan Putri Candrawathi juga akan mempengaruhi permasalahan ini.

"Apalagi dalam kasus yang sedang kita diskusikan ini, ketidakpercayaan pada laporan itu akan berlipat ganda akibat dari obstruction of Justice itu sendiri," kata Andy Yentriyani.*** (Eka Alisa Putri/Pikiran-Rakyat.com)

Reporter Redaksi
Editor Tedi Rukmana