AYOJAKARTA.COM – Penetapan Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong sebagai terpidana kasus korupsi impor gula, dapat menjadi preseden buruk bagi Indonesia.
Bukan hanya mengancam para penegak hukum yang terlibat, vonis hukum terhadap Tom Lembong dalam kasus korupsi impor gula juga berdampak pada nilai kemanusiaan.
Hal tersebut terjadi karena seluruh kejujuran, integritas dan tanggung jawab Tom Lembong selama menjadi menjadi pejabat, dapat terhapus hanya karena satu vonis hukuman.
Dalam kondisi penuh dengan tekanan serta keraguan atas diri sendiri yang sangat mengancam, Tom justru sanggup bertahan dan tidak menunjukan sikap reaktif agresif.
Kondisi yang tetap tenang dalam keadaan penuh dengan tekanan tersebut, menunjukkan kematangan sikap emosional seorang Tom Lembong.
Pernyataan terkait dampak putusan Hakim kepada Tom Lembong dalam kasus korupsi impor gula, merupakan pandangan Reza Indragiri selaku Psikolog Forensik.
Disampaikan dalam sebuah kanal Youtube, Reza menganggap dampak keputusan hakim saat persidangan dapat saja mempengaruhi cara Tom Lembong bersikap.
Selain dugaan perkara yang tidak sepenuhnya terbukti dan vonis hukum yang cukup lama, Tom menurut Reza akan sangat mungkin mengalami tekanan emosi hingga potensi depresi.
Namun demikian, Reza justru menyampaikan rasa kagum terhadap ketahanan mental yang dimiliki oleh Tom karena tidak bersikap agresif.
Tidak adanya perlakuan kasar dan reaktif yang ditunjukan setelah vonis hukum, menurut Reza dapat menjadi indikasi bahwa Tom Lembong memang sangat menguasai diri.
“Dari sorot matanya, ujung bibirnya bisa kita katakan ada luapan perasaan negatif dalam hatinya, tetapi Tom Lembong sangat terkendali,” ungkap Reza.
Baca Juga: Calo Tiket Tur G-Dragon Diciduk di Taiwan, Raup Penjualan Ilegal di Atas Rp11 Miliar
Lebih lanjut Reza menambahkan, marah atau bahkan murka luar biasa merupakan hal wajar bagi seseorang yang nilai-nilai dirinya sedang direndahkan.
Dalam kasus Tom Lembong, Reza melihat ekspresi marah atau murka yang berhasil diredam dan dikendalikan merupakan respon ketahanan emosional.
Sebab dalam ranah psikologi forensik, amarah yang ditunjukkan atau diperlihatkan kepada publik bisa merupakan cara seorang Pesakitan menutupi Kesalahan.
“Semakin marah Pesakitan akan semakin curiga pula publik dibuatnya, semakin tinggi emosinya, semakin tinggi tuduhan bahwa dia memang bersalah,” jelas Reza.
Baca Juga: Motorola Edge 60 Pro Resmi Rilis di Indonesia: Punya Performa Gaming dan Multitasking Terbaik
Salah satu hal penting yang menurut Reza perlu untuk segera mendapat perhatian, adalah prinsip keadilan dan kesetaraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Proses penegakan hukum, menurut Reza bukan hanya tentang pencarian salah dan benar tetapi juga keseimbangan antara dakwaan dan nilai kejujuran.
“Saya harap Tom Lembong tidak tenggelam, dan kalau dia yakin memang tidak bersalah maka perjuangan memang tidak boleh berhenti,” jelas Reza dikutip Ayojakarta dari Fristian Griec Media. ***