TEBET, AYOJAKARTA.COM -- Pemerintah perlu mempertimbangkan aspek ekonomi jika tahun ajaran baru dimulai pada pertengahan Juli 2020.
Sebab, tak sedikit orang tua murid yang kesulitan mendapat penghasilan di tengah wabah COVID-19.
Hal itu disampaikan Pengurus Persatuan Keluarga Besar Taman Siswa (PKBTS), Darmaningtyas, dalam surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo.
Menurutnya, kebutuhan finansial saat memasuki tahun ajaran baru cukup tinggi. Para orang tua harus mengeluarkan biaya pendaftaran dan membeli perlengkapan sekolah untuk anak mereka.
AYO BACA : Bantahan Disdik DKI: Sekolah Dibuka Kembali Setelah Kondisi Benar-benar Aman
"Saat ini banyak orang tua yang secara ekonomi dan psikologis rapuh akibat terkena dampak PHK atau usaha mereka yang tutup. Kondisi tersebut berpengaruh besar terhadap kerapuhan psikologi anak. Dibutuhkan waktu yang cukup untuk memulihkan kerapuhan ekonomi dan psikologi orang tua juga anak," kata Darmaningtyas, Kamis (28/5/2020).
Meski pemerintah akan melonggarkan pembatasan sosial di sejumlah sektor, tetap saja perekonomian orang tua murid tidak bisa pulih dalam waktu dekat. Selain terbebani kebutuhan sehari-hari, orang tua juga harus berpikir keras menyekolahkan anaknya.
"Apakah dalam waktu 1,5 bulan ke depan masyarakat otomatis pulih ekonominya? Rasanya kondisi ekonomi dan psikologis masyarakat 1,5 bulan ke depan masih amat rapuh sehingga kurang mendukung untuk memikirkan pencarian sekolah baru dan membayar uang sekolah atau kuliah," ungkapnya.
Sekali lagi ia meminta Presiden Jokowi mempertimbangkan usul mengundur tahun ajaran baru sampai Januari 2021. Dengan begitu, tidak membebani orang tua murid secara ekonomi maupun psikologis.
"Biarkan masyarakat konsentrasi bertahan dan melawan COVID-19 terlebih dulu sampai akhir 2020, jangan ditambah beban baru tentang biaya sekolah atau kuliah dan keselamatan anaknya," kata Darmaningtyas.