AYOJAKARTA.COM – Jauh sebelum perkara Ijazah Palsu menjadi sorotan publik, Jokowi lebih dahulu dicurigai karena diduga berusaha membocorkan rahasia negara.
Selain diduga menggunakan Ijazah Palsu untuk mencapai kekuasaan, sosok Jokowi juga ditengarai terhubung dengan badan intelijen asing.
Melalui perwakilan intelijen asing tersebut, Jokowi yang kini tersandung kasus dugaan Ijazah Palsu kemudian menemui Pakar Disintegrasi Internasional di Brisbane, Australia.
Baca Juga: Oppo A5i Pro Resmi Meluncur: RAM Besar 8 GB dan Baterai 6000 mAh, tapi Ada Kekurangan Ini
Salah satu misi yang dilakukan oleh Jokowi saat menemui Profesor Damien Kingsbury saat itu, adalah membawa dokumen referendum Papua Barat.
Indikasi adanya keterlibatan pihak asing dalam sengketa di Papua, adalah meningkatnya serangan bersenjata OPM pasca pertemuan tersebut.
Pernyataan terkait peran antagonis politik Jokowi sebelum menduduki kursi Presiden, merupakan pendapat Mantan Anggota Intelijen Negara Kolonel (Purn) Sri Radjasa.
Disampaikan saat menjadi narasumber di sebuah siniar, Sri menganggap sepak terjang sosok yang dijuluki sebagai Raja Jawa sudah sedemikian membahayakan.
Baca Juga: Bansos PKH dan BPNT Tahap 3 Cair Juli-September 2025? Cek Status Penerima di Link Resmi Kemensos
“Seperti kita tahu, sejak awal Jokowi sudah berinteraksi dengan dua tokoh CIA dalam rangka meredam radikalisme-nya Abu Bakar Baasyir,” ungkap Sri.
Cenderung berkiblat kepada imperialis Barat di awal masa kepemimpinan, Sri menganggap Jokowi juga berperan dalam kasus dugaan korupsi gula Tom Lembong.
Menurut Sri Rajasa, kasus dugaan korupsi impor gula yang menyeret nama Tom Lembong sempat mendapat perhatian dari Presiden Prabowo namun tidak bisa berbuat banyak.
“Damien ini Tokoh International Advisor untuk gerakan separatis di Indonesia, semuanya,” imbuh Sri Rajasa seperti dikutip Ayojakarta dari Forum Keadilan TV.
Baca Juga: Info Lengkap Bansos Juli 2025: PIP SD-SMA, Beras 20 Kg, dan Update KKS Bank BSI/BRI
Dengan berbagai rekam jejak yang dimiliki serta kekuasaan yang masih mencengkram Indonesia, Sri Rajasa berharap Presiden Prabowo bisa lebih tegas dan berani.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh Presiden Prabowo adalah dengan menyediakan ruang netral agar publik bisa mengakses kejujuran Jokowi terkait dugaan Ijazah Palsu.
Menyikapi polemik yang terus berkelanjutan, Jokowi menyebut sejumlah pihak sedang berusaha secara politik untuk menjatuhkan kredibilitasnya.
Meski kasus dugaan ijazah palsu dan narasi pemakzulan terhadap Gibran yang disebut representasi kekuasaannya merupakan dinamika, Jokowi melihat ada agenda di baliknya.
“Saya berperasaan memang ada agenda besar politik dibalik isu ijazah palsu dan pemakzulan, untuk menurunkan reputasi saya,” sanggah Jokowi.
Sehubungan dengan adanya tanggapan tersebut, Ahmad Khozinudin selaku Kuasa Hukum Roy Suryo mendesak agar ijazah milik Jokowi bisa diperlihatkan ke publik.
Untuk mengembalikan marwahnya yang dianggap sudah dirusak, Jokowi menurut Ahmad perlu bersikap ksatria selayaknya negarawan dengan memberi akses ijazah ke publik.
“Ini pepatah Buruk Rupa Cermin Dibelah, kalau ingin menyelamatkan anak bangsa dari perseteruan; tunjukkan ijazahnya,” desak Ahmad dikutip Ayojakarta dari YouTube tvOneNews. ***