AYOJAKARTA.COM - Gelombang unjuk rasa yang terjadi di berbagai daerah Indonesia pada 28–31 Agustus 2025 meninggalkan duka mendalam.
Bentrokan antara aparat keamanan dan massa aksi berujung kericuhan, mengakibatkan korban jiwa dari berbagai latar belakang. Berikut adalah daftar korban yang tercatat meninggal dunia.
1. Rheza Sendy Pratama
Mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta berusia 21 tahun ini meninggal setelah terjatuh dari sepeda motor saat berusaha menyelamatkan diri dari tembakan gas air mata. Keluarga menemukan banyak luka di tubuhnya yang diduga akibat penganiayaan.
Baca Juga: WhatsApp Luncurkan Fitur Baru 'AI Writing Help', Asisten Pintar untuk Menulis Pesan Lebih Cepat
2. Sarina Wati
Staf Sekretariat DPRD Kota Makassar berusia 26 tahun tewas terjebak dalam kebakaran gedung DPRD saat massa membakar gedung pada 29 Agustus 2025.
3. Rusdamdiansyah
Seorang pengemudi ojek online di Makassar berusia 25 tahun meninggal setelah dikeroyok massa yang menuduhnya sebagai intel.
4. Muhammad Akbar Basri
Staf Humas DPRD Kota Makassar berusia 28 tahun juga ditemukan tewas dalam kebakaran gedung DPRD.
5. Sumari
Tukang becak asal Solo berusia 60 tahun meninggal diduga akibat sesak napas setelah terpapar gas air mata saat kericuhan di Bundaran Gladak.
Baca Juga: Usai Rumahnya Dijarah Massa, Beredar Foto Ahmad Sahroni dan Istri Melaksanakan Ibadah Umrah
6. Saiful Akbar
Plt. Kasi Kesra Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar, berusia 43 tahun, meninggal setelah melompat dari lantai empat gedung DPRD Makassar yang terbakar.
7. Affan Kurniawan
Pengemudi ojek online di Jakarta, 21 tahun, meninggal dunia setelah dilindas kendaraan taktis Brimob di kawasan Senayan saat kericuhan unjuk rasa pada 28 Agustus 2025.
Baca Juga: Gandeng Materai.ID, Bank Mandiri Perkuat Penerimaan Negara Lewat Layanan Pembelian e-Meterai
Tragedi ini menunjukkan betapa rentannya nyawa dalam situasi penuh kekacauan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar mencatat empat korban jiwa dari kerusuhan di DPRD Kota Makassar, sementara korban lainnya tersebar di Yogyakarta, Solo, dan Jakarta.
Kematian mereka menyisakan pertanyaan besar terkait penanganan aksi massa dan perlindungan warga sipil.
Aparat berjanji melakukan penyelidikan, terutama atas kasus yang melibatkan dugaan kekerasan aparat di Yogyakarta dan Jakarta.
Masyarakat berharap tragedi ini menjadi pelajaran agar unjuk rasa di masa mendatang tidak lagi memakan korban jiwa.
Pemerintah, aparat, maupun peserta aksi diharapkan lebih mengutamakan keselamatan, sehingga suara rakyat tetap tersampaikan tanpa mengorbankan nyawa.***