Nasional

Salsa Erwina Hutagalung Jawab Feedback dari Bennix Soal Tuntutan yang Masih Dangkal dan Kurang Nampol Buat Mengubah Sistem

Oleh: Katarina Erlita Minggu 07 Sep 2025, 19:08 WIB
Salsa Erwina Hutagalung Jawab Feedback dari Bennix Soal Tuntutan yang Masih Dangkal dan Kurang Nampol Buat Mengubah Sistem (Sumber: Instagram.com/@ppi_denmark, youtube.com/@Bennix)

AYOJAKARTA.COM - Salsa Erwina Hutagalung kembali mencuri perhatian publik usai menanggapi kritik tajam dari Bennix terkait tuntutan demonstrasi yang dinilai masih bersifat dangkal.

Dalam unggahannya, Salsa menegaskan pentingnya memperdalam substansi tuntutan agar mampu membawa perubahan sistemik yang nyata.

“Teman-teman kita kan mau mulai follow up ya buat tuntutan ke depannya. Benar kalau tuntutan itu masih general dan kita harus belajar bikin lebih dalam dengan berbagai perspektif biar benar-benar mengubah sistem, bukan hanya sekadar symptoms,” tulis Salsa di instastory Instagram yang diunggah pada Minggu, 7 September 2025.

Baca Juga: Oppo Reno 14 Pro 5G Dibandrol Seharga Rp11 Juta, Kemahalan Atau Setara dengan Fitur Canggih yang Dimilikinya?

Ia pun mengaku sudah menonton video Bennix di YouTube yang berisi kritik sekaligus masukan keras terkait arah perjuangan rakyat.

Tidak hanya itu, Salsa juga menyebut dirinya telah menghubungi langsung Bennix serta ahli hukum tata negara dan anggota parlemen.

Menurutnya, kolaborasi dengan sosok yang berkompeten menjadi langkah penting agar gerakan rakyat tidak berhenti pada isu-isu permukaan. “Kalau kalian ada saran siapa yang bisa kita kolaborasiin, makin tulis ya,” tambah Salsa.

Kritik Bennix: Jangan Hanya Soal Tunjangan DPR

Dalam video panjangnya, Bennix menyoroti bagaimana sejumlah demonstrasi yang berujung jatuhnya korban jiwa justru hanya menghasilkan tuntutan yang bersifat receh, misalnya soal pemangkasan tunjangan DPR sebesar Rp50 juta.

Baca Juga: Ferry Irwandi Tegaskan Bahwa Darurat Militer Bukan Isu Halu Delusional, Ini Alasannya!

Ia menyebut hal itu “masuk angin” karena tidak sebanding dengan pengorbanan nyawa rakyat. “Coba lu pikir dengan akal sehat. Artinya lu mau bilang nyawa saudara kita cuma seharga Rp50 juta? Bodoh banget itu. Yang harus lu lawan itu sistem. Sistem kita busuk, birokrasi korup, nepotisme di mana-mana,” tegas Bennix.

Lebih lanjut, Bennix mengingatkan bahwa perjuangan sejati seharusnya menyasar akar masalah: korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Ia bahkan menyebut solusi ekstrem seperti hukuman mati bagi koruptor dan larangan nepotisme lintas generasi, mencontoh praktik radikal di beberapa negara yang berhasil menekan perilaku korup.

Kolaborasi untuk Perubahan Sistemik

Menariknya, kritik keras tersebut justru disambut positif oleh Salsa. Baginya, perbedaan sudut pandang merupakan kesempatan belajar agar tuntutan rakyat bisa lebih tajam dan berdampak luas.

Baca Juga: PNM Mekaar Buktikan UMKM Indonesia Bisa Go Internasional

Kolaborasi antara aktivis, akademisi, dan praktisi politik diharapkan dapat memperkuat narasi perubahan yang lebih substantif.

Dengan sikap terbuka Salsa Erwina Hutagalung dan gagasan keras Bennix, publik kini menantikan apakah kolaborasi keduanya bisa melahirkan agenda perjuangan baru yang tidak hanya simbolis, tetapi benar-benar menyasar akar persoalan sistem demokrasi di Indonesia.***

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita