AYOJAKARTA.COM - Wacana darurat militer sempat mencuat di tengah gelombang demonstrasi besar yang melanda berbagai daerah.
Ferry Irwandi, salah satu aktivis yang vokal, menegaskan bahwa isu ini bukan sekadar “halu delusional” seperti yang dituding sebagian pihak.
Menurutnya, tanda-tanda darurat militer sudah terbaca jelas dari berbagai pola pergerakan dan operasi di lapangan.
“Buat yang bilang darurat militer itu cuma isu halu delusional atau terlalu jauh, bagaimana kami memahaminya?” tulis Ferry dalam postingan di akun media sosial Instagram pribadinya yang diunggah pada, Minggu, 7 September 2025.
Ia menjelaskan bahwa ada dua kelompok relawan, yakni Baltigo dan Hachinosu, yang selama ini menjadi tulang punggung pemantauan situasi.
“Temen-temen Baltigo di seluruh Indonesia membaca pattern yang sama soal titik kumpul dan patroli pasukan. Temen-temen Hachinosu mengkompile puluhan ribu komentar non-organik yang mengarahkan massa untuk menyerang titik vital negara.”
Aktivis berusia 33 tahun itu juga mengungkapkan alasan kenapa kelompoknya meminta massa menahan diri pada hari Minggu, 31 Agustus 2025.
Baca Juga: Anugerah Ekonomi Hijau 2025, Bukti Komitmen BRI Berdayakan UMKM
“Daripada mengambil risiko terlalu besar, korban jiwa bertambah, penjarahan semakin menjadi, dan ketakutan masyarakat minoritas semakin tinggi, kami sepakat mengambil tindakan. Semua anak-anak diminta meredam apapun aksi di hari Minggu, dan berjalan dengan baik.”
Namun, ia menyoroti kejanggalan lain. “Beberapa gedung dan fasilitas umum terbakar padahal nggak ada aksi yang berjalan. Bagaimana itu bisa terjadi? Kita nggak punya senjata, nggak punya akses, tapi kita punya sesuatu yang mereka nggak punya: otak.”
Di sisi lain, ada laporan yang menyebut Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin sempat mengusulkan penetapan darurat militer. Draf peraturan bahkan disebut sudah disiapkan.
Di sisi lain, Direktur Pusat Kajian Hukum dan Keadilan Sosial UGM, Herlambang P. Wiratraman, menilai wacana ini merupakan refleksi kegagalan pemerintah.
Baca Juga: Viral Isu PT Gudang Garam Lakukan PHK Massal, Ternyata Ini Faktanya
Menurut Herlambang, darurat militer berpotensi meruntuhkan prinsip negara hukum, melanggar konstitusi, dan menggerus kebebasan sipil.
Sementara itu, Ferry Irwandi sendiri mengaku sudah merasakan tekanan besar. “Saya pribadi mengalami doxxing setiap hari sampai ke keluarga, ibu, istri, dan anak-anak saya. Mengalami teror nyata, berusaha dibunuh karakternya, tapi teror nggak akan berguna selama yang diteror tidak merasa takut. Sepuluh nyawa terlalu banyak.”
Ia pun menutup dengan pesan keras, “Siapapun yang mengatakan darurat militer terlalu jauh, tidak kawan, dia sangat dekat. Sangat-sangat dekat. Panjang umur perjuangan!”***
Share this article
Ferry Irwandi tegaskan darurat militer bukan isu halu. Ia ungkap pola patroli, serangan akun non-organik, hingga teror yang dialami. Menurutnya, darurat militer sangat dekat dan berbahaya.