Nasional

Aceh Tamiang Seperti Kota Mati Pasca Banjir Bandang, Relawan Ceritakan Bau Mayat Mulai Menyeruak di Sepanjang Jalan

Oleh: Katarina Erlita Sabtu 06 Des 2025, 09:44 WIB
Relawan, Bang Ale, Kunjungi Wilayah Aceh Tamiang. (Sumber: Instagram.com/@saktimandragunaa)

AYOJAKARTA.COM - Aceh Tamiang kini berubah menjadi daerah yang digambarkan para relawan sebagai “kota mati.” Banjir bandang dan longsor yang menghantam wilayah tersebut sejak 26 November 2025 telah mengubah seluruh lanskap kota menjadi puing dan lumpur.

Tidak hanya merusak infrastruktur dan rumah warga, bencana ini juga menelan korban jiwa dalam jumlah besar serta meninggalkan trauma mendalam bagi para penyintas.

Salah satu relawan, Bang Ale dengan akun Instagram @saktimandragunaa, membagikan kesaksian memilukan saat memasuki Kuala Simpang, Aceh Tamiang.

Baca Juga: Upaya Ramah Lingkungan Diakui Dunia, bank bjb Menang Besar di Climate Awards 2025

Dalam unggahan pada Jumat, 5 Desember 2025, ia menceritakan perjalanan yang membuat air matanya tak berhenti jatuh. Ia menyebut bahwa selama menjadi relawan, belum pernah melihat kondisi seburuk ini.

Menurutnya, warga telah terisolasi tanpa listrik, sinyal, makanan, dan air bersih selama sembilan hari penuh. Banyak yang terpaksa meminum air banjir demi bertahan hidup.

Sambil menahan tangis, Bang Ale menyebutkan bahwa saat kaca mobil dibuka, bau mayat langsung menyeruak sepanjang jalan, bahkan beberapa mobil yang terbalik diduga masih menyimpan jenazah di dalamnya.

"Tolong jeda dulu bahas penyebab dan lain lain, selesaikan dulu masalah perut mereka. Banyak orang hilang, banyak yang kelaparan. Selesaikan dulu bagian ini," tulis Bang Ale.

Baca Juga: Digitalisasi Kepri Dipercepat! Inilah Gebrakan Baru bank bjb dalam Layanan Publik

Kerusakan kota terlihat di setiap sudut. Jalan-jalan dipenuhi lumpur setebal 50 sentimeter, truk besar bergelimpangan, sementara rumah warga porak-poranda dengan tembok runtuh, pagar jebol, dan atap berlubang.

Sisa-sisa pohon, pakaian, serta barang-barang rumah tangga berserakan di sepanjang jalur yang ia lalui. Warga setempat bahkan menyebut wilayah itu sebagai “kota zombie” karena suasananya yang gelap, sunyi, dan penuh kehancuran.

Kondisi semakin parah karena akses komunikasi lumpuh total. Tidak ada listrik, tidak ada jaringan seluler, dan tidak ada sumber air bersih.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Tamiang juga rusak berat, membuat pelayanan medis tidak bisa berjalan. Situasi ini paralel dengan lumpuhnya aktivitas ekonomi dan distribusi logistik di seluruh kabupaten.

Baca Juga: Event Sportainment Terbesar! BNI Perkuat Ekosistem Olahraga lewat wondr BrightUp Cup 2025

Gubernur Aceh Muzakir Manaf baru berhasil mencapai lokasi tersebut pada Kamis dini hari, 4 Desember 2025, membawa 30 ton bantuan berupa air minum, beras, mi instan, biskuit, telur, serta obat-obatan.

Namun jumlah bantuan ini masih jauh dari cukup melihat skala bencana yang melanda. Data BNPB mencatat 42 warga Aceh Tamiang meninggal dunia, meski warga meyakini jumlahnya bisa lebih besar karena banyak yang masih hilang.

Sementara BPBD Aceh Tamiang menyebut total terdampak mencapai 225.847 jiwa, dengan lebih dari 215 ribu orang mengungsi. Secara keseluruhan, korban meninggal akibat bencana di seluruh Provinsi Aceh mencapai 471 jiwa, dengan 354 orang hilang dan 1.900 lainnya luka-luka.

Tragedi ini menjadi pengingat bahwa penanganan cepat, koordinasi kuat, dan bantuan besar-besaran sangat diperlukan untuk memulihkan Aceh Tamiang dari bencana terbesar dalam sejarahnya.***

Baca Juga: Viral! Kasus WNA Asal China Tabrak Pengendara Motor WNI di Semarang, Korban 1 Meninggal Dunia

TAGS:
Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita