Nasional

Ferry Irwandi Kaget, Sungai Guwo di Sumatera Barat Tiba-tiba Alami fenomena Fluvival Geomorphology, Apa Itu?

Oleh: Katarina Erlita Senin 08 Des 2025, 07:03 WIB
Ferry Irwandi Pantau Kondisi Sungai Guwo di Sumatera Barat. (Sumber: Instagram.com/@irwandiferry)

AYOJAKARTA.COM - Bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatra Barat di penghujung November 2025 kembali memunculkan fenomena alam yang mengejutkan.

Ferry Irwandi, aktivis sosial yang sejak awal bergerak di berbagai titik bencana, mengungkap kondisi Sungai Guwo di Sumatera Barat yang tiba-tiba mengalami fenomena fluvial geomorphology sehingga aliran sungai terbelah menjadi tiga.

Kondisi ini disebut Ferry sangat berbahaya, terutama karena curah hujan di wilayah tersebut masih terus tinggi. Dalam unggahan di Instagram pada Minggu, 7 Desember 2025, Ferry menjelaskan bahwa debit air Sungai Guwo naik secara brutal dalam waktu sangat singkat.

Baca Juga: Akses Terputus akibat Banjir, Prabowo Pastikan Jembatan Bailey Teupin Mane Selesai dalam 1 Minggu

Hujan ekstrem menyebabkan kapasitas sungai terlampaui, membuat air meluap dan mencari jalur baru. Material dari hulu seperti longsoran tanah, pasir, hingga batang kayu ikut terbawa arus dan menutup alur sungai lama, memaksa sungai membelah diri.

“Sungai Guwo kini terpecah tiga aliran. Rumah-rumah warga hancur dan debit air terus meningkat setiap kali hujan turun. Warga diungsikan karena takut setiap hujan seperti memicu trauma baru,” ujar Ferry.

Apa Itu Fenomena Fluvial Geomorphology?

Fluvial geomorphology adalah proses perubahan bentuk permukaan bumi yang disebabkan oleh aktivitas sungai, baik oleh aliran air, erosi, sedimentasi, maupun perubahan jalur aliran.

Baca Juga: Di depan Prabowo, Bahlil Pastikan Listrik Kembali Menyala di 93 Persen Wilayah Aceh Mulai Hari Ini 7 Desember!

Ketika hujan ekstrem membuat debit air meningkat jauh di atas kapasitas palung sungai, tekanan air memaksa sungai mencari jalur baru.

Jika jalur lama tersumbat material longsor atau sedimentasi, sungai dapat memecah diri menjadi beberapa cabang baru. Fenomena ini tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga sangat berbahaya bagi permukiman.

Di Sungai Guwo, tercatat 16 rumah hancur akibat perubahan aliran mendadak ini. Fenomena Sungai Guwo menjadi bagian dari rangkaian bencana besar yang melanda Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh sejak akhir November 2025.

Hujan deras berhari-hari memicu banjir bandang dan longsor di ratusan titik. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 2.726 kejadian bencana hidrometeorologi sepanjang 2025, dengan banjir bandang besar ini menelan lebih dari 400 korban jiwa.

Gubernur Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari. Ferry Irwandi menyerukan agar pemerintah pusat dan daerah mempercepat mitigasi karena setiap wilayah menghadapi tantangan berbeda. “Tiga daerah, tiga masalah berbeda. Tapi semuanya butuh solusi cepat sebelum kerusakan makin besar,” tegasnya.

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita