Nasional

Butuh Proses yang Panjang, Bobibos Tak Mau Umbar Janji Instan

Oleh: Katarina Erlita Rabu 17 Des 2025, 15:37 WIB
Bobibos, Bahan Bakar Ramah Lingkungan. (Sumber: Instagram.com/@bobibos_)

AYOJAKARTA.COM - Inovasi bahan bakar nabati berbasis jerami padi bernama Bobibos kembali menjadi perbincangan hangat. Di tengah antusiasme dan skeptisisme publik, pengelola Bobibos menegaskan bahwa proyek ini bukanlah janji instan, melainkan hasil dari proses riset panjang yang telah berjalan bertahun-tahun.

Melalui pernyataan resmi yang diunggah di akun Instagram pada Rabu, 17 Desember 2025, pihak Bobibos menyampaikan bahwa riset dimulai dari skala laboratorium dengan biaya besar dan kegagalan yang tidak sedikit.

Semua proses tersebut dijalani untuk satu tujuan utama yaitu menghadirkan energi terbarukan yang ramah lingkungan dan terjangkau bagi masyarakat.

Baca Juga: Masa Depan Bobibos Makin Terang, Dukungan Internasional Mulai Datang

Pengelola Bobibos menekankan bahwa temuan mereka bukan klaim sepihak. Bahan bakar hasil konversi jerami telah menjalani uji resmi di Lemigas, Kementerian ESDM, dengan hasil angka oktan mencapai 98,1.

Meski demikian, Bobibos menegaskan posisinya bukan sebagai pengganti BBM fosil, melainkan sebagai energi alternatif yang memberi pilihan baru bagi masyarakat. Saat ini, Bobibos memasuki tahap pilot project melalui Bobibos Mobile Unit.

Uji terbuka dijadwalkan berlangsung di Jonggol dan Subang sebagai bagian dari proses transparansi kepada publik. “Kami tidak menghilang. Kami tidak menipu. Kami sedang bekerja,” tegas pihak pengelola dalam pernyataannya.

Optimisme terhadap Bobibos juga datang dari kalangan legislatif. Anggota DPR RI Dapil Kabupaten Bogor, Dr. H. Mulyadi, menyampaikan pandangannya dalam podcast Ruang Suara di YouTube RRI Bogor Official pada Selasa, 16 Desember 2025.

Baca Juga: Ada Apa di Balik Proyek BBM Jerami Bobibos? Mesin Dilarang Diliput Tapi Klaim Tetap Bombastis

Ia menilai Bobibos berpotensi menjadi solusi strategis dalam menekan beban subsidi energi nasional. Menurut Dr. Mulyadi, persoalan energi Indonesia bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga besarnya subsidi yang membebani APBN.

Inovasi seperti Bobibos dinilai penting untuk membuka jalan pengurangan subsidi tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat. Ia juga menyoroti nilai tambah bagi petani, karena jerami yang selama ini dianggap limbah kini memiliki nilai ekonomi.

Menariknya, ketertarikan terhadap Bobibos tidak hanya datang dari dalam negeri. Dr. Mulyadi mengungkap adanya komunikasi dengan pihak luar negeri, termasuk dari Norwegia, negara yang dikenal sebagai pelopor energi bersih.

Minat tersebut dinilai sebagai sinyal positif, meski tetap harus diiringi kepatuhan terhadap regulasi energi nasional. Meski peluang terbuka, semua pihak sepakat Bobibos tidak bisa langsung dikomersialisasi.

Fokus saat ini adalah uji publik, kesiapan fasilitas produksi, serta pembinaan pemerintah. Jika kelak Bobibos mampu menyumbang sebagian kecil saja dari kebutuhan energi nasional, dampaknya diyakini akan signifikan bagi kedaulatan energi dan keberlanjutan fiskal Indonesia.***

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita