AYOJAKARTA.COM - Proyek bahan bakar nabati Bobibos kembali memicu perbincangan publik. Bukan hanya soal klaim BBM murah dan ramah lingkungan berbahan jerami, tetapi juga terkait tingkat transparansi proses produksinya yang dinilai masih menyisakan banyak tanda tanya.
Setelah didesak Kang Dedi Mulyadi (KDM) untuk hadir di Lembur Pakuan, Bobibos akhirnya memamerkan perkembangan proyek berupa pengiriman 42 toren jumbo serta pembangunan area biomanufaktur seluas sekitar 1.000 meter persegi.
Dalam penjelasan resminya akun Instagram resminya, Bobibos menyebut jerami akan diolah di fasilitas biomanufaktur menjadi cairan hidrokarbon.
Baca Juga: Respons BOBIBOS Setelah Bahan Bakar Buatannya Dilirik Langsung Pabrikan Otomotif Asal Korea Selatan
Puluhan ton jerami dimasukkan ke dalam toren dan diberi “serum” khusus yang diklaim sebagai bagian dari hak kekayaan intelektual perusahaan. Cairan tersebut kemudian diproses lebih lanjut menggunakan mesin yang dipasang di dalam truk transformer atau truk Fuso.
Namun, di titik inilah kontroversi mengemuka. Bobibos menyatakan bahwa KDM dan rekan-rekan media diperbolehkan masuk dan melihat langsung ke dalam truk, tetapi dilarang mengambil gambar maupun membuat konten.
Alasan yang disampaikan adalah perlindungan intellectual property. Kebijakan ini langsung memicu kecurigaan publik, terutama jika dibandingkan dengan teknologi energi lain, seperti mesin pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar, yang justru bisa diliput secara terbuka.
Ketertutupan ini dinilai bertolak belakang dengan narasi transparansi yang sejak awal diusung Bobibos sebagai inovasi karya anak bangsa.
Baca Juga: Sunliquid Tumbang Setelah Bakar Triliunan, Bobibos Masih Percaya Diri Olah Jerami Jadi BBM?
Publik mempertanyakan mengapa mesin yang disebut sebagai “kunci utama” produksi justru tidak boleh didokumentasikan, sementara teknologi serupa di sektor energi alternatif lain dapat diuji dan diamati secara terbuka oleh masyarakat maupun peneliti.
Di sisi lain, Bobibos tetap menunjukkan uji coba penggunaan BBM hasil produksinya. Salah satu demonstrasi dilakukan pada sepeda motor NMAX setelah tangki dikuras dan diisi BBM Bobibos. Mesin dapat menyala dan berjalan normal.
Namun, bagi sebagian pengamat, uji coba ini belum cukup untuk membuktikan klaim efisiensi, irit, serta kualitas setara atau bahkan melampaui BBM fosil.
Sorotan lain muncul pada aspek hulu. Hingga kini, belum ada informasi rinci mengenai mekanisme penyerapan jerami dari petani, kontak resmi pengumpulan bahan baku, maupun sistem rantai pasoknya.
Hal ini kembali dibandingkan dengan proyek pengolahan limbah plastik di wilayah yang sama, yang sudah melibatkan warga secara langsung dan transparan.
Dengan mesin yang tak boleh diliput, klaim teknologi yang sangat ambisius, serta janji harga BBM sekitar Rp4.000 per liter, Bobibos kini berada pada fase krusial.
Publik menunggu pembuktian nyata, apakah ini terobosan energi nasional yang sesungguhnya, atau sekadar proyek viral yang belum siap diuji secara terbuka dan komprehensif.***

Share this article
Bobibos kirim 42 toren ke Lembur Pakuan, olah jerami jadi BBM di truk. Media boleh lihat tapi tak boleh ambil gambar, klaim hemat, ramah lingkungan.