Nasional

Benarkah Kerja Sama Antara Bobibos dan Dedi Mulyadi Terancam Bubar Sebelum Sempat Produksi?

Oleh: Katarina Erlita Jumat 19 Des 2025, 21:05 WIB
Bobibos, Bahan Bakar Ramah Lingkungan. (Sumber: instagram.com/bobibos_)

AYOJAKARTA.COM - Proyek bahan bakar nabati berbasis jerami padi, Bobibos, kembali menjadi sorotan publik. Namun kali ini bukan karena terobosan teknologinya, melainkan isu panas yang memicu tanda tanya besar, benarkah kerja sama antara Bobibos dan Kang Dedi Mulyadi (KDM) terancam bubar sebelum sempat berproduksi?

Isu ini mencuat setelah publik menyoroti pergeseran agenda yang dinilai janggal. Sebelumnya, Bobibos menjanjikan kedatangan truk dan dimulainya pilot project di Lembur Pakuan pada 18 Desember.

Bahkan, sejumlah konten survei lahan dan kesiapan panen padi sempat diunggah. Namun alih-alih realisasi di lokasi tersebut, tim Bobibos justru terlihat melakukan survei dan menyiapkan lahan di Jonggol, Bogor yang disebut sebagai markas mereka.

Baca Juga: Bobibos Bikin Markas di Bogor, Siap Dirikan Pabrik Bio Manufaktur di Jonggol

Perubahan arah ini memicu spekulasi warganet. Pasalnya, KDM sebelumnya sempat mempertanyakan secara terbuka kesiapan Bobibos untuk memulai proyek, mengingat jerami hasil panen berisiko menumpuk dan rusak jika terlalu lama menunggu.

Respons dari pihak Bobibos kala itu berupa janji membawa unit truk ke Lembur Pakuan. Ketika janji tersebut tak terealisasi sesuai tanggal, narasi pun bergeser karena publik diminta menanyakan kesiapan lahan kepada KDM.

Di sinilah kontroversi menguat. Publik menilai ada ketidaksinkronan komunikasi yang berujung saling lempar tanggung jawab. Apalagi, di saat bersamaan, Bobibos juga mengumumkan pertemuan dengan calon investor dari luar negeri seperti Norwegia dan Timor Leste.

Situasi ini memunculkan dugaan yang masih sebatas analisis publik bahwa fokus proyek tengah bergeser ke pencarian pendanaan, bukan eksekusi awal kerja sama.

Baca Juga: Bobibos Jadi Magnet Menarik Bagi Negara Asing, Norwegia dan Timor Leste Siap Guyur Investasi dengan Nilai Fantastis

Perlu digarisbawahi, hingga kini belum ada pernyataan resmi yang menegaskan adanya “pecah kongsi”. Namun dinamika yang terlihat di ruang publik cukup untuk memantik rasa penasaran.

Apakah ini murni strategi paralel sambil menunggu kesiapan lahan? Ataukah ada perbedaan visi dan ritme kerja yang belum terjembatani? Yang jelas, Bobibos sejak awal diposisikan sebagai karya anak bangsa dengan janji energi murah dan ramah lingkungan.

Harapan publik pun tinggi. Karena itu, transparansi dan kejelasan komunikasi menjadi krusial agar kepercayaan tidak tergerus oleh drama. Jalan menuju kedaulatan energi memang tidak pernah singkat.

Namun, jika konflik narasi terus berlanjut tanpa klarifikasi tegas, risiko terbesar bukan sekadar tertundanya proyek, melainkan pudarnya optimisme publik terhadap inovasi energi nasional yang sedang tumbuh.***

Baca Juga: Bobibos Buka Kartu Soal Riset Bertahun-tahun hingga Kini Mulai Dilirik Negara Asing

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita