AYOJAKARTA.COM - Inovasi bahan bakar nabati berbasis jerami padi bernama Bobibos kembali memantik perhatian publik. Di tengah antusiasme dan skeptisisme yang bersamaan, pengelola Bobibos menegaskan satu hal penting yakni proyek ini bukan janji instan, melainkan hasil riset panjang yang telah ditempuh bertahun-tahun dengan biaya besar dan kegagalan berulang.
Dalam pernyataan resmi yang diunggah di Instagram pada Rabu, 17 Desember 2025, pihak Bobibos menyampaikan bahwa semangat riset mereka lahir dari keinginan menghadirkan energi terbarukan yang ramah lingkungan dan terjangkau.
“Hadirnya Bobibos bukan untuk menggantikan energi fosil, melainkan sebagai energi alternatif atau opsi bagi masyarakat,” tulis pengelola. Mereka juga menegaskan keterbatasan sebagai inovator, sehingga dukungan negara menjadi kunci.
Baca Juga: Butuh Proses yang Panjang, Bobibos Tak Mau Umbar Janji Instan
Tahap Skala Laboratorium
Riset Bobibos dimulai dari skala laboratorium dengan investasi yang tidak sedikit. Proses panjang ini akhirnya membuahkan hasil uji resmi dari Lemigas, lembaga di bawah Kementerian ESDM.
Jerami padi yang dikonversi menjadi bahan bakar menunjukkan angka oktan 98,1 hasil yang diklaim sebagai data resmi, bukan uji internal. Capaian ini menjadi dasar peluncuran awal Bobibos di Jonggol pada 2 November 2025.
Tahap Pilot Project
Saat ini Bobibos memasuki fase pembuktian berikutnya melalui Bobibos Mobile Unit (MBU), truk transformer yang dirancang untuk memproses jerami menjadi bahan bakar nabati nonfosil.
Uji terbuka dijadwalkan berlangsung di Jonggol dan Lembur Pakuan, Subang. Pengelola menegaskan proses ini akan disaksikan media dan masyarakat sebagai bentuk transparansi. “Kami tidak menghilang. Kami tidak menipu. Kami sedang bekerja,” tegas mereka.
Menariknya, minat terhadap Bobibos mulai datang dari luar negeri. Pengelola mengungkap telah melakukan komunikasi dengan sejumlah negara, termasuk Timor Leste, yang bahkan mengundang Bobibos untuk pertemuan lanjutan pada Desember 2025. Total ada lima negara yang disebut telah menghubungi.
Baca Juga: Masa Depan Bobibos Makin Terang, Dukungan Internasional Mulai Datang
Menuju Produksi Massal
Pada tahap produksi massal, Bobibos mengakui keterbatasan kapasitas. Investasi besar, regulasi, dan proteksi negara dinilai mutlak agar inovasi ini dapat melayani jutaan rakyat.
Pembina Bobibos, Mulyadi, menegaskan harapan agar teknologi ini pada akhirnya diambil alih negara demi kepentingan publik.
Optimisme juga datang dari DPR RI. Dr. H. Mulyadi menilai Bobibos berpotensi membantu menekan subsidi energi dan memberi nilai tambah bagi petani karena jerami memiliki nilai ekonomi.
Meski demikian, semua pihak sepakat jika jalan Bobibos masih panjang. Jika berhasil, Bobibos bisa menjadi bagian penting dari kedaulatan energi Indonesia yang bersih bagi bumi, terjangkau bagi rakyat.***
Share this article
Bobibos menegaskan proyek BBM jerami bukan janji instan. Lewat riset bertahun-tahun, uji Lemigas, pilot project, hingga minat asing, Bobibos butuh dukungan negara menuju produksi massal.