AYOJAKARTA.COM - PT Inti Sinergi Formula, pengembang bahan bakar nabati Bobibos, memutuskan untuk memulai produksi massal di Timor Leste, bukan Indonesia.
Bobibos, yang mengubah limbah jerami menjadi bahan bakar setara RON 98, menawarkan potensi besar untuk sektor energi.
Namun, regulasi bioenergi di Indonesia menjadi penghalang utama, yang justru membuat Timor Leste lebih menarik sebagai tempat investasi.
1. Tertinggal Regulasi Bioenergi di Indonesia
Salah satu faktor utama yang membuat Bobibos memilih Timor Leste adalah ketiadaan regulasi yang mendukung bioenergi berbasis jerami di Indonesia.
Kebijakan transisi energi nasional Indonesia saat ini hanya mengakomodasi bahan bakar nabati yang berasal dari kelapa sawit, aren, dan tebu.
Bahan baku dari limbah jerami belum masuk dalam regulasi tersebut, sehingga Bobibos tidak bisa memulai produksi massal di dalam negeri.
Mulyadi, pembina Bobibos, menyatakan bahwa perusahaan tidak ingin memaksakan distribusi tanpa adanya standar uji ketahanan, sertifikasi, dan keselamatan yang jelas.
2. Timor Leste Menawarkan Dukungan Regulasi yang Proaktif
Berbeda dengan Indonesia, Timor Leste memberikan dukungan penuh kepada Bobibos dalam hal regulasi dan infrastruktur.
Pemerintah Timor Leste sangat proaktif dalam memfasilitasi perizinan dan menyediakan lahan seluas 25.000 hektare untuk bahan baku, dengan 5.700 hektare disiapkan pada tahap awal.
Di sektor hilir, pemerintah juga menyediakan fasilitas seperti Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang sesuai dengan kapasitas pabrik.
Dukungan penuh dari pemerintah Timor Leste ini jelas membuat negara tersebut lebih menarik bagi Bobibos daripada Indonesia.
3. Skema Bisnis yang Menguntungkan dan Efisien di Timor Leste
Selain dukungan regulasi, skema bisnis yang ditawarkan oleh Timor Leste juga lebih efisien dan menguntungkan bagi Bobibos.
Dengan bekerja sama dengan perusahaan lokal, Timor Agronova SA, dalam skema kepemilikan saham 51% untuk mitra lokal dan 49% untuk Bobibos, beban investasi menjadi lebih ringan.
Mitra lokal bertanggung jawab untuk menyiapkan infrastruktur seperti pabrik, gudang, dan lahan pertanian, sementara Bobibos fokus pada teknologi dan mesin pengolahan.
Ini memungkinkan operasional yang lebih efisien dan memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat Timor Leste.
Potensi Bioetanol di Indonesia
Dengan luas sawah Indonesia yang mencapai 11,3 juta hektare, potensi untuk memproduksi bioenergi berbahan baku jerami sangat besar, bahkan bisa mencapai 20 miliar liter per tahun.
Namun, tanpa adanya regulasi yang jelas, potensi tersebut belum dapat dimanfaatkan sepenuhnya di Indonesia.
Bobibos menargetkan produksi 50 ribu liter per hari di Timor Leste dan berencana untuk memperluas produksi ke negara lain seperti Vietnam, Malaysia, dan Norwegia.
Meski demikian, Bobibos tetap membuka peluang untuk kembali ke Indonesia jika regulasi yang mendukung telah diterbitkan.
Dengan potensi besar ini, Indonesia seharusnya bisa memanfaatkan limbah jerami untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Namun, tanpa adanya regulasi yang mendukung, potensi tersebut terancam melayang, sementara negara tetangga seperti Timor Leste sudah melangkah lebih maju.***