Nasional

Dianggap Sebagai Hasil Kerja Operasi Intelijen yang Hebat, Benarkah Joko Widodo Mengalami Gangguan Kepribadian?

Oleh: Karseno AJ Senin 23 Jun 2025, 20:11 WIB
Dianggap Sebagai Hasil Kerja Operasi Intelijen yang Hebat, Benarkah Joko Widodo Mengalami Gangguan Kepribadian?

AYOJAKARTA.COM – Saat menjadi narasumber di siniar Abraham Samad, politisi senior PDIP mengungkap proses karier politik Joko Widodo yang cukup misterius.

Disebut-sebut sebagai sosok yang tidak memiliki ijazah oleh Bambang Tri Mulyono, Joko Widodo justru memiliki gelar Doctorandus serta Insinyur pada awal namanya.

Adanya perubahan penulisan gelar dari Drs saat menjabat Walikota Solo dan Ir saat menjabat Presiden, membuat kualifikasi akademik Joko Widodo makin dipertanyakan.

Baca Juga: Perayaan HUT ke-498 Kota Jakarta Berjalan Meriah, Seniman Betawi Mendesak Agar Pejabat Daerah Tidak Melupakan Sejarah!

Terkait dengan rekam jejak akademik dan karier politik Presiden Ketujuh Indonesia, Dokter Zulkifli S Ekomei yang juga dikenal sebagai Pegiat Konstitusi memberi tanggapan.

Menurut Dokter Zulkifli, kasus dugaan ijazah palsu dan rekam jejak akademik menyangkut Jokowi termasuk aktivitas hariannya saat ini merupakan bagian dari desepsi.

Upaya berlapis-lapis untuk menyembunyikan kebenaran dan fakta sesungguhnya atau Desepsi, menurut Dokter Zulkifli merupakan salah satu bagian dari cara-cara kerja Intelijen.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, Dokter Zul menilai keberhasilan Jokowi memimpin Indonesia selama dua periode merupakan bentuk lemahnya intelijen.

Baca Juga: Politisi Senior PDIP Ungkap Fakta Mengejutkan Tentang Joko Widodo! Ternyata Bukan Sekedar Ijazah Palsu, Tapi Juga Ini

Meski tidak berlaku secara tiba-tiba atau instan, proses pelemahan terhadap intelijen sudah dimulai jauh sebelum Jokowi menjabat sebagai Presiden.

Melalui perencanaan matang dan proses panjang yang berliku serta dipenuhi dengan muslihat, tidak mengherankan jika dampak kepemimpinan Jokowi sangat berdampak.

Selain pergeseran terhadap nilai-nilai sosial dan kultural di masyarakat, perubahan secara sistematis juga bermula dari lemahnya kesadaran berbangsa dan bernegara.

Adanya kecenderungan untuk lebih mensejahterakan golongan, membuat kesadaran dan kewaspadaan Indonesia sebagai sebuah bangsa menjadi sangat rentan disusupi Pihak Lain.

Baca Juga: Update Bansos PKH dan BPNT Tahap 2 PT Pos dan Status Bantuan Tambahan Rp400 Ribu, Pencairan Mulai Terlihat!

Sebagaimana Mulyadi Tamba selaku Pakar Ilmu Politik berkata, Dokter Zul memahami alasan mengapa Jokowi sempat dianggap kiriman neraka untuk menghancurkan Indonesia.

Sebab sepanjang berkuasa, Dokter Zul melihat Joko Widodo pada tingkat praktis telah melakukan berbagai upaya kebijakan yang terkesan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.

Namun pada lapisan konstitusional yang merupakan dasar dalam bernegara, Jokowi justru sukses membuat Indonesia menjadi satu-satunya negara tanpa Ibukota.

Joko Widodo, menurut Dokter Zul telah banyak melakukan pelanggaran konstitusional yang semuanya diakibatkan karena kurang waspadanya bangsa Indonesia.

Baca Juga: SPMB Jakarta 2025 Dibuka! Panduan Lengkap Daftar Jalur KJP Plus, PIP, dan Mitra Trans Jakarta

Selain disebabkan oleh kuatnya budaya persaingan antar partai politik, mundurnya peradaban Indonesia juga disebabkan karena berubahnya Undang-Undang Dasar 1945.

Karena itu, sebagai Pegiat Konstitusi Dokter Zul berharap agar sense of belonging dan wujud Nasionalisme terhadap Indonesia dirumuskan secara lebih futuristik.

Sehingga sosok Pemimpin Indonesia di masa depan, benar-benar memiliki kualifikasi seorang STAF yang berani melayani Tuhan dan setia melindungi para makhluk ciptaan-Nya.

Karakter Sidiq, Tabligh, Amanah dan Fatanah atau STAF lahir dari kekuatan akan penerimaan dan kejujuran, bukan pencitraan yang hadir karena gangguan kepribadian. ***

Baca Juga: Kabar Terbaru! Perkiraan Jadwal Penyaluran Bansos Beras 10 Kg via PT Pos dan Bantuan Tambahan Rp400 Ribu

Reporter Karseno AJ
Editor Katarina Erlita