AYOJAKARTA.COM - Ribuan pengemudi ojek online (ojol) dari kawasan Jabodetabek menggelar aksi demonstrasi di Jakarta hari ini.
Mereka bergerak dari Istana Merdeka menuju kantor aplikasi online di Petojo, Jakarta Pusat, dan Cilandak, Jakarta Selatan, menuntut dua hal utama: pengurangan potongan tarif aplikasi yang mencapai 20-30% dan legalisasi pekerjaan ojol.
Ketua Umum Asosiasi Pengemudi Ojek Online, Igun Wicaksono, menegaskan bahwa aksi ini adalah langkah penting bagi driver untuk mendapatkan perhatian pemerintah dan perusahaan aplikasi.
Selain tuntutan tarif, mereka juga meminta transparansi dalam pengambilan keputusan yang menyangkut nasib pengemudi.
Seorang driver yang ikut dalam aksi menyampaikan keluhan terkait banyaknya aturan yang dinilai terlalu ketat, termasuk ancaman suspend karena pelanggaran kecil seperti tidak memakai atribut lengkap.
"Terus terlalu memanjakkan juga customer, ya kita kadang-kadang berbuat kesalahan itu kaya ngerem mendadak itu langsung ditanggapi. Giliran customer Yang melapor langsung ditanggapi tapi giliran kita (driver) yang melapor diabaikan," keluhnya.
Ia juga menyoroti perlakuan tidak adil, di mana keluhan dari driver sering kali diabaikan, sementara laporan dari customer selalu ditanggapi dengan cepat.
Driver tersebut juga mengungkapkan ketidakpuasannya terkait pemotongan pendapatan.
"Dari argo Rp18.000 bisa jadi Rp10.400 setelah dipotong, itu berapa persen jatuhnya? Potongan terlalu besar, sementara kami masih harus mengeluarkan biaya untuk bensin dan parkir," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa driver berharap ada perbaikan dalam sistem argo dan pemotongan agar lebih adil dan transparan.
Selain itu, mereka juga menyoroti ketidakpastian status pekerjaan ojol yang belum diakui secara resmi oleh pemerintah.
Para pengemudi berharap dengan adanya legalisasi pekerjaan ojol, mereka akan mendapatkan perlindungan yang lebih baik serta hak-hak yang selama ini belum terpenuhi.
Demo ini direncanakan akan berlangsung hingga sore hari dengan harapan pemerintah dan perusahaan aplikasi online akan segera merespons tuntutan mereka.
Sebelumnya, aksi serupa pernah dilakukan, namun kali ini para pengemudi berharap hasil yang lebih konkret.
Aksi mogok kerja ini juga diikuti dengan ancaman untuk menghentikan operasional selama beberapa hari jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.
Hal ini tentu akan berdampak pada layanan ojek online di berbagai wilayah, terutama di Jabodetabek.
Dengan semakin banyaknya pengemudi yang bergabung dalam aksi ini, tekanan terhadap perusahaan aplikasi online dan pemerintah semakin meningkat.