Nasional

Benarkah Kasus Vina Cirebon Penuh Rekayasa dan Skenario? Isi Percakapan Liga Akbar dan Iptu Rudiana Soal Musuh Eky Terungkap, Ternyata…

Oleh: Sulistiyaningsih Senin 17 Jun 2024, 14:04 WIB
Liga Akbar mencabut Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang ditandatanganinya saat menjadi saksi tahun 2016 karena merasa keterangan yang disampaikan saat itu tidak sesuai dengan fakta.

AYOJAKARTA.COM – Kasus kematian pasangan kekasih Eky dan Vina Cirebon tahun 2016 silam kembali mendapatkan sorotan publik setelah film Vina: Sebelum 7 Hari rilis di bioskop.

Setelah kasus Vina Cirebon kembali viral, publik merasa ada kejanggalan dalam penanganan kasus.

Apalagi setelah teman Eky, Liga Akbar mencabut Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang ditandatanganinya saat menjadi saksi tahun 2016 karena merasa keterangan yang disampaikan saat itu tidak sesuai dengan fakta.

Kemunculan Liga Akbar ini membuat publik semakin curiga bahwa kasus kematian Eky dan Vina Cirebon penuh dengan dugaan rekayasa dan skenario.

Terlebih saat teman Eky mengaku menandatangani BAP tersebut karena adanya tekanan dari pihak kepolisian.

Baca Juga: 5 Kejanggalan Kasus Vina-Eky Tuai Sorotan Tajam, Ada Aksi Abuse of Power dari Sosok Kunci Petinggi Polisi?

Di hadapan media, Liga Akbar bercerita soal dirinya yang dijemput serta diajak ngobrol empat mata oleh ayah Eky, Iptu Rudiana.

Ia menjelaskan bahwa sekitar satu minggu setelah Eky meninggal, Iptu Rudiana menghubungi dirinya.

Menurutnya Iptu Rudiana bertanya mengenai baju Eky yang terakhir kali dipakai saat kejadian dan apakah anaknya punya musuh atau masalah dengan orang lain.

“Foto tersangka tersebar, 7 hari atau lebih dari seminggu bapak almarhum Eky minta ngobrol personal empat mata, ada ngobrol biasa dengan cara telepon dan bertemu di mobil,” ujar Lingga Akbar, dikutip dari YouTube KOMPASTV pada Senin, 17 Juni 2024.

“Setelah itu hanya ingin menguatkan, bilangnya soal pakaian almarhum yang dipakai saja itu awalnya. Menanyakan sebelumnya ada masalah tidak, masalah dengan orang lain,” lanjutnya.

Baca Juga: Kasus Vina Cirebon Mulai Tunjukkan Titik Terang, Liga Akbar Sebut Dirinya Membuat BAP karena Bertemu dengan Iptu Rudiana Ayah Eky

Liga Akbar kemudian menceritakan bahwa Eky sempat curhat pernah punya masalah dengan Rivaldi alias Ucil, salah satu terpidana kasus pembunuhan tersebut.

“Almarhum Eky pernah curhat, katanya pernah punya masalah sama Rivaldi, Rivaldi Ucil, kalau dibilang kenal nggak apal muka ada. Soalnya almarhum Eky yang menunjukkan (fotonya) sebulan sebelum kejadian,” kata dia.

Begini percakapan Liga Akbar dengan Eky sebelum peristiwa pembunuhan di tahun 2016:

“A, kenal sama orang ini nggak?” tanya Eky ke Liga Akbar.

“Siapa?” jawab Liga Akbar.

Selanjutnya Eky menjawab lagi “Rivaldi, A.”

“Kenapa, Ky?” tanya Liga Akbar kembali ke Eky.

Pada saat itu Eky menjawab bahwa sedang ada masalah dengan Rivaldi “Saya ada masalah.”

“Masalah apa?” tanya Liga Akbar kembali.

Mengetahui temannya ada masalah, Liga Akbar berusaha mencari tahu tetapi pada saat itu Eky enggan memberikan jawaban.

Baca Juga: Keberadaan Pegi Setiawan saat Pembunuhan Vina Cirebon Terungkap, Benarkah Ada di Bandung?

Menurutnya setelah bertemu dengan Iptu Rudiana, tiga atau empat hari dijemput untuk membuat BAP, setelah magrib.

“Saya bilang nggak tau, karena memang nggak tau. Terus pemeriksa bilang katanya saya ada di situ, saya bilang siapa pak yang ada di situ. Dia nggak jawab, dibilang beberapa kali saya nggak tahu, tapi pemeriksa nggak percaya,” ungkap Liga Akbar.

Dari hasil pemeriksaan, teman Eky menemukan kejanggalan isi BAP yang tidak sesuai dengan keterangannya.

Menurutnya dalam BAP tertulis ada pelemparan batu dan pengejaran terhadap korban, padahal saat itu ia tidak pernah berbicara demikian.

“Di situ disebutkan adanya pelemparan batu dan pengejaran. Ketika penyidik bertanya siapa yang saya lihat, saya tetap menjawab tidak tahu dan bersikeras dengan jawaban itu,” terangnya.

“Saya bilang nggak tahu pak, tetep saya ngotot nggak tahu terus menolak. Cuma saya bingung karena nggak didampingi sama kuasa hukum, dengan terpaksa tanda tangan. Awalnya saya menolak dulu, berulang kali menolak,” imbuhnya.***

Reporter Sulistiyaningsih
Editor Tedi Rukmana