AYOJAKARTA.COM – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa proses pembangunan pabrik BYD, di Kabupaten Subang berjalan kondusif dan tidak terganggu oleh aktivitas organisasi masyarakat (ormas).
Pernyataan ini disampaikan Dedi untuk menjawab kekhawatiran publik menyusul munculnya laporan adanya gangguan dari ormas terhadap proyek strategis tersebut.
Menurut Dedi Mulyadi, isu tersebut sudah tidak relevan dengan situasi terbaru di lapangan.
"Itu berita lama. Sekarang pembangunan sudah sangat aman dan lancar. Cerita soal gangguan itu adalah cerita lama," ujar Dedi di Gedung Pakuan, Bandung, Rabu (23/4/2025).
Masalah Utama Bukan Ormas, tapi Percaloan Tanah
Lebih lanjut, Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa hambatan utama dalam pembangunan pabrik BYD bukan berasal dari premanisme, melainkan praktik percaloan tanah.
Ia mengungkapkan adanya permintaan harga tanah yang sangat tinggi dari sejumlah pemilik lahan, yang dinilai di luar kewajaran.
Baca Juga: 3 Fakta Terbaru Jokowi yang Akan Laporkan 4 Orang Atas Tuduhan Ijazah Palsu
"Bukan premanisme masalahnya, tapi calo tanah. Ada yang nawarin sampai Rp20 juta per meter. Ini yang sedang kami fasilitasi," jelasnya.
Pemerintah provinsi akan mempertemukan pihak perusahaan dengan warga pemilik lahan guna melakukan negosiasi harga yang lebih rasional.
Dedi Mulyadi optimistis bahwa proses pembebasan lahan akan berjalan lancar dan segera rampung.
Investasi Besar dan Target Produksi Awal 2026
Proyek pembangunan pabrik BYD di Subang berada di kawasan Subang Smartpolitan dan telah diperluas dari 108 menjadi 126 hektare, dengan nilai investasi mencapai Rp11,7 triliun.
Fasilitas ini digadang-gadang akan menjadi salah satu pusat produksi otomotif terbesar di Asia Tenggara.
General Manager BYD Asia-Pasifik, Liu Xueliang, mengungkapkan bahwa pabrik di Indonesia ditargetkan menjadi salah satu proyek tercepat dalam sejarah ekspansi BYD, dengan produksi komersial yang diharapkan mulai berjalan pada awal 2026.
"Proses pembangunan di Indonesia akan lebih cepat dibandingkan dengan pabrik kami di China dan Thailand," kata Liu.
Pabrik ini akan memproduksi kendaraan listrik dengan kapasitas awal mencapai 150.000 unit per tahun, serta dilengkapi fasilitas produksi baterai dan kendaraan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) kelas premium.
Baca Juga: Memanas! 4 Tokoh Dilaporkan ke Bareskrim Polri atas Tuduhan Ijazah Palsu Jokowi, Ada Roy Suryo
Tenaga kerja juga akan meningkat dari 8.700 menjadi lebih dari 18.800 orang.
Jika semua berjalan sesuai rencana, pabrik BYD di Subang akan menjadi pendorong utama transformasi industri otomotif Indonesia ke arah kendaraan ramah lingkungan.