AYOJAKARTA.COM – Meski menimbulkan pro dan kontra, rupanya pemerintah tetap akan melanjutkan program penyebaran nyamuk Wolbachia.
Di tengah situasi tersebut, muncul berbagai pertanyaan dari publik terkait dampak yang mungkin ditimbulkan dari program itu.
Salah satu dampak yang dikhawatirkan publik terkait penyebaran nyamuk Wolbachia tersebut adalah pada kesehatan.
Baca Juga: 15 Perguruan Tinggi Terbaik di Indonesia versi Update Terakhir Webometrics, Ada Kampus Kamu Nggak?
Dikutip dari akun TikTok @tropmeducation pada (25/1/24), publik juga menanyakan terkait kebenaran apakah nyamuk Wolbachia bisa merusak otak dan juga menyebabkan kanker.
Kekhawatiran tersebut dituliskan oleh seorang warganet dengan akun X @Giriharja5 yang kemudian dibacakan oleh dr. Riris Andono Ahmad, MPH Phd.
Sebagai informasi, dr. Riris Andono Ahmad merupakan peneliti pendamping riset teknologi Wolbachia.
“Katanya di info media online dan sumber ahli bahwa nyamuk tersebut bisa merusak otak dan dikatakan kanker otak dan upaya ini sudah lama agar populasi manusia di muka bumi ini berkurang 50%, itu katanya tapi wallahu alam,” kata dr. Riris Andono saat membacakan pertanyaan dari salah seorang warganet.
Dokter Riris Andono lantas menjawab pertanyaan dari warganet terkait dampak penyebaran nyamuk Wolbachia terhadap kesehatan tersebut.
Dalam tanggapannya, dokter Riris Andono menegaskan bahwa informasi tersebut merupakan salah satu konspirasi dan juga hoax.
“Nah ini juga memang menjadi salah satu, semacam hoax konspirasi yang banyak bermunculan di internet terkait berita penyakit apapun,” terang dr. Riris Andono.
Selain itu, dr. Riris Andono juga tak menampik jika adanya teknologi baru sedikit banyak pasti menimbulkan kekhawatiran.
“Ini merupakan hal yang wajar bahwa teknologi baru itu akan menimbulkan kekhawatiran tertentu,” ujarnya lagi.
Namun meski begitu, dr. Riris Andono menegaskan agar kekhawatiran semacam itu tidak lantas dijadikan konspirasi apalagi hoax.
“Tetapi alangkah baiknya apabila kekhawatiran tersebut tidak kemudian disebarkan dalam bentuk hoax terutama dengan berdasarkan teori konspirasi tetapi menggunakan basis bukti ilmiah yang ada,” himbaunya.
Pasalnya, dr. Riris Andono menegaskan jika bakteri Wolbachia ini aman bagi manusia lantaran tidak dapat hidup di dalamnya.
“Nah dari bukti ilmiah yang ada ternyata memang bakteri Wolbachia aman bagi manusia,” tegasnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, “Karena bakteri Wolbachia itu hanya mampu hidup di dalam sel tubuh serangga jadi dia tidak mampu hidup di dalam tubuh manusia.”
Bahkan, dr. Riris Andono juga membuktikan hal itu dengan penelitian yang sudah dilakukan belasan tahun.
“Kami sudah melakukan penelitian terkait dengan itu, kami sudah melakukan survei di antara masyarakat yang sudah mendapatkan nyamuk ber-Wolbachia,” ujarnya
“Kita melihat apakah ada jejak bakteri Wolbachia di dalamnya dengan melakukan sero survei dan memang tidak ada kami temukan adanya bakteri Wolbachia sama sekali dari sampel penelitian yang kami lakukan,” imbuh peneliti tersebut.***