AYOJAKARTA.COM – Saksi Ahli yang hadir dalam sidang kasus kopi sianida 2016 silam tak henti menguak dugaan rekayasa pada bukti rekaman CCTV di kasus ini.
Dialah Rismon Sianipar, pakar IT yang kala itu hadir sebagai saksi ahli digital dari pihak Jessica Wongso serta menguak adanya rekayasa pada barang bukti rekaman CCTV.
Namun, kesaksian serta bukti temuan rekayasa yang disampaikan oleh Rismon Sianipar kala itu justru diabaikan oleh hakim.
Baca Juga: Sempat Dibuat Koma, David Ozora Akui Menyesal Pernah Pacaran dengan Agnes: Gue Bisa Cari yang Lain
Meski begitu, Rismon Sianipar tidak menyerah dan hingga kini terus menyuarakan hasil temuannya yang menunjukkan jika rekaman CCTV kasus Jessica Wongso ini sudah direkayasa.
Menurut Rismon, tujuannya agar menjadi bukti jika Jessica Wongso terbukti sebagai pelaku yang memasukkan racun sianida di kopi Mirna Salihin.
Mengingat saat itu, kasus ini begitu menyita perhatian masyarakat karena dinilai sangat rumit dan barang bukti yang ditemukan juga dianggap tidak cukup untuk menentukan Jessica Wongso pelakunya atau bukan.
Bukti terbaru bahwa rekaman CCTV kasus Jessica Wongso telah direkayasa tersebut disampaikan Rismon Sianipar melalui akun TikTok @soultalker__ pada Selasa (23/1/24).
Kali ini, Rismon membeberkan bukti berupa surat BAP dari Muhammad Nuh Al Azhar yang saat itu selaku Ahli Digital Forensik Mabes Polri.
“Nah sebagai pengingat rekayasa kembali kita harus menayangkan bukti surat lagi ya, berulang kali saya tidak lelah, saya tidak bosan, dimana sih rekayasanya, nah ini,” ujar Rismon Sianipar.
Dimana dari bukti yang ditunjukkan tersebut, Rismon mengatakan jika ada perbedaan antara BAP Muhammad Nuh dengan BAP Christopher Hariman Riyanto.
Sebagai informasi, Christopher Hariman saat itu juga dihadirkan sebagai Ahli Digital Forensik dari Universitas Monash Australia.
“Nanti drama mereka dengan Muhammad Nuh Al Azhar , Hari Wibowo ini adalah menampilkan ketika tangan itu mengambil sesuatu dari tas itu 16:29:50,” terang Rismon sambil menunjukkan gambar surat tersebut melalui layar komputer.
“Nah ini dia di dalam rentang ini kamera 7, 15:57, 17:17,” lanjutnya lagi.
Rismon Sianipar kemudian kembali membandingkan perbedaan jelas di BAP kedua ahli digital tersebut yang menurut Rismon sebagai pelaku rekayasa.
“Di BAP Christopher itu 1920 1080 tetapi di Muhammad Nuh Al Azhar itu 960 pixel lebar, tinggi 576, ini dia nih bukti jelas rekayasa,” tegas Rismon penuh keyakinan.
Baca Juga: Tom Lembong Ungkap Sulitnya Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia, Ketimpangan Jadi Faktor Utama
Temuan Rismo Sianipar tersebut bukan tanpa alasan, pasalnya Rismon sangat yakin jika tidak mungkin ada perbedaan di kamera dan waktu yang sama.
“Dalam rentang waktu yang sama,kamera yang sama, tidak mungkin berbeda,” ucap Rismon.
Lebih lanjut Rismon mengatakan, “Kecuali ada tangan rekayasa yaitu Muhammad Nuh Al Azhar dan Christopher Hariman Riyanto.”
Selanjutnya, Rismon Sianipar menjelaskan lebih detail mengapa ada video yang dipotong pada part tertentu.
Rupanya diduga kuat hal itu dilakukan agar bisa disesuaikan dengan waktu sebelum kedatangan Mirna Salihin ke kafe Olivier.
“Kenapa di potong di pukul 17:17, nah ini bayangkan ya kan, itu karena di 17:18 Mirna datang, ya kan” jelas Rismon.
“Mirna datang jadi sebelum dia datang dipotong dulu supaya diedit, maka memasukkan sesuatu tuh kan Jessica sebelum Mirna datang ya nah dipotong pakai video cutter ya terus dia downscaling, kaburkan, edit edit edit, nah begitulah ya kan,” imbuhnya.***