AYOJAKARTA.COM – Menjelang akhir tahun 2023, masyarakat Indonesia kembali dikejutkan dengan adanya peningkatan kasus COVID-19 varian Omicron JN.1 sublineaga BA.2.86.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut, kenaikan kasus COVID-19 varian Omicron JN.1 sublineaga BA.2.86 masuk melalui perjalanan luar negeri.
Guna memperkecil penyebaran, masyarakat diimbau untuk kembali menerapkan prokes agar terhindar dari terinfeksi COVID-19 varian Omicron JN.1 sublineaga BA.2.86.
Dalam keterangan di hadapan media, Menkes menyebut varian ini memiliki tingkat penyebaran yang cepat.
Namun demikian, masyarakat diminta untuk tidak segera panik, mengingat tingkat fatalitas varian virus Omicron JN.1 sublineaga BA.2.86 yang rendah.
Di samping menerapkan protokol kesehatan, masyarakat juga dihimbau untuk melengkapi vaksinasi COVID sebagai upaya memaksimalkan daya tahan tubuh.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sampai dengan tanggal 17 Desember 2023 telah tercatat sebanyak 1983 kasus positif COVID.
Wilayah kota besar seperti DKI Jakarta, tercatat mengalami lonjakan kasus yang mencapai angka 200 per hari.
Mengingat proses masuknya virus yang disebabkan karena perjalan luar negeri, Menkes menghimbau agar masyarakat melakukan tes sepulang dari luar negeri.
Kendati terjadi peningkatan kasus COVID-19, Dinas Perhubungan DKI Jakarta memastikan tidak akan melakukan pembatasan penumpang.
Menjelang libur Natal dan tahun baru 2024, setiap penumpang transportasi diminta untuk menggunakan masker.
Pernyataan terkait tidak adanya pembatasan tersebut disampaikan langsung oleh Kadishub DKI Jakarta, Syafrin Liputo.
“Jadi pembatasan tidak ada, tetapi kami harapkan lebih menjaga diri sendiri dengan menggunakan masker, karena di dalam bus cukup lama waktunya,” jelas Syafrin, dikutip dari kanal YouTube KOMPASTV, Selasa, 26 Desember 2023.
Sehubungan dengan adanya peningkatan kasus COVID-19, Epidemiolog asal Griffith University Dicky Budiman memberi tanggapan.
Menurut Dicky, dampak dari COVID bukan hanya pada fase akut melainkan juga berdampak pada fase kronis.
Karena itu Dicky menghimbau agar masyarakat melengkapi vaksin COVID dan menerapkan perilaku hidup bersih serta mentaati protokol kesehatan.
“Vaksin masih penting, perilaku hidup bersih sehat penting, termasuk lima M di dalamnya,” jelas Dicky.
Baca Juga: COVID-19 Varian JN.1 Masih Level Aman, Ini Imbauan dari Kemenkes
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah masyarakat Indonesia yang telah melakukan vaksin dosis pertama masih berada di angka 86,88 persen.
Sedangkan untuk vaksin dosis kedua tercatat, berada di angka 74, 56 persen dan booster pertama di angka 38.17 persen.
Sementara itu, penggunaan booster kedua di Indonesia juga baru mencapai angka sebanyak dua persen.***