AYOJAKARTA.COM – Kegiatan diskusi antara Anies Baswedan dengan relawan Change Indonesia di Kota Bandung batal digelar di dalam Gedung Indonesia Menggugat (GIM).
Acara yang dijadwalkan berlangsung pada hari Minggu, 8 Oktober 2023 ini seharusnya digelar di GIM, Kota Bandung, Jawa Barat.
Namun, beberapa jam sebelum acara dimulai izin untuk bisa memakai GIM Bandung tiba-tiba dibatalkan oleh oknum secara sepihak. Padahal klaim panitia sudah mendapatkan izin untuk bisa memakai gedung tersebut.
Terkait dengan dugaan penghadangan demi penghadangan yang dirasakan oleh pasangan bakal capres dan cawapres Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar alias Cak Imin mendapat respon dari pengamat politik.
Baca Juga: Tak Resah Hasil Surveinya Rendah, Anies Baswedan Sebut Hal Ini
Ahmad Khoirul Umam selaku Direktur Eksekutif Indo Strategic buka suara terhadap dugaan penghadangan pasangan Anies Baswedan dan Cak Imin.
Menurutnya semua tergantung dari langkah mitigasi pasca serangan-serangan penghadangan tersebut.
Bahkan penghadangan terhadap Anies Baswedan dan Cak Imin ini dinilai bisa memantik simpati publik.
“Semua bergantung dari langkah mitigasi pasca serangan-serangan semacam itu,” ungkap Umam, dikutip AyoJakarta.com dari kanal YouTube MetroTV, Selasa, 10 Oktober 2023.
Baca Juga: Usai Gandeng Cak Imin, Elektabilitas Anies Baswedan di Pilpres 2024 Berpotensi Terus Naik
“Kemudian bisa dilakukan dan juga bisa dijelaskan secara proporsional kepada basis masyarakat. Saya pikir itu berpotensi dan mengubahnya menjadi dukungan yang cukup potensial,” lanjutnya.
Namun, akan berbeda jika tidak penghadangan-penghadangan ini tidak diantisipasi dengan baik maka juga bisa berdampak buruk.
Menurut pengamat politik, kejadian seperti ini bukan satu dua kali saja karena Cak Imin juga sempat mengalami situasi yang sama.
“Kalau nggak salah di Kalimantan di acara Musabaqah Tilawatil Quran yang dia (Cak Imin) hadir di sana dalam kapasitas sebagai Wakil Ketua DPR untuk membuka sebuah acara,” kata Direktur Eksekutif Indo Strategic.
“Tapi kemudian dalam undangan itu seolah dibatalkan dalam menit-menit yang sama. Jadi trennya polanya relatif mirip,” tambahnya.
Umam mengungkapkan bahwa situasi-situasi penghadangan ini harus bisa dijelaskan dengan baik.
Terkait dengan poin-poin kemunduran demokrasi, pengamat politik menyebut bisa menjadi salah satu hal yang menarik simpati masyarakat dan peluang dukungan yang baik.
“Jika kemudian itu bisa di translate dengan baik, bisa diterjemahkan, bisa disosialisasikan dan dijelaskan kepada masyarakat terutama kelas menengah terdidik dan juga masyarakat secara umum,” ujar Umam.
“Maka tantangan itu bisa berubah menjadi peluang, tapi kalau misalnya tidak mampu maka ini berpotensi menjadi sebuah ganjalan dan bisa berdampak kurang produktif bagi elektabilitas pasangan Anies-Muhaimin,” tandasnya.***