Nasional

Survei SMRC Ungkap Siapa yang Paling Disukai Pemilih NU, Anies, Prabowo atau Ganjar?

Oleh: Francisca Wuri Sulistyowati,ST Jumat 08 Sep 2023, 14:49 WIB
Ilustrasi. Survei SMRC Ungkap Siapa yang Paling Disukai Pemilih NU, Anies, Prabowo atau Ganjar?

AYOJAKARTA.COM - Survei SMRC mengungkap siapa yang paling disukai pemilih NU atau Nahdlatul Ulama ketika diberikan pilihan tiga calon presiden Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo.

Dikutip dari saifulmujani.com, survei SMRC ini dilakukan pada Desember 2022.

Hasil survei SMRC ini dijelaskan secara gamblang oleh Profesor Saiful Mujani pada program ‘Bedah Politik bersama Saiful Mujani’ episode “Capres Pilihan Warga Nahdlatul Ulama” yang disiarkan melalui kanal YouTube SMRC TV pada Kamis, 23 Februari 2023. Video utuh pemaparan Prof. Saiful Mujani bisa disimak di sini: https://youtu.be/WQ1GvxveqHY

Baca Juga: Gambar yang Pertama Kamu Lihat Kuda atau Katak? Terungkap Sisi Positif Kepribadian Anda!

Berdasarkan hasil survei SMRC, capres yang diusung PDIP Ganjar, unggul di kalangan pemilih NU. Sebanyak 47 persen anggota NU aktif memilih Ganjar. Kemudian, 18 persen memilih Anies, dan 24 persen memilih Prabowo.

Sementara anggota NU tapi tidak aktif, 46 persen memilih Ganjar, 23 persen memilih Anies, dan 27 persen mendukung Prabowo.

“Di mata jamaah NU atau massa NU, orang yang paling kuat itu pertama adalah Ganjar. Kedua adalah Prabowo dan terakhir Anies,” jelas Saiful.

Dia mengatakan mengapa NU memiliki peran signifikan dalam kontestasi pilpres. Saiful menjelaskan bahwa NU adalah organisasi yang solid dan besar di Indonesia. Oleh karena itu punya nilai elektoral yang penting dalam politik Indonesia.

Saiful menjelaskan lebih lanjut, ada hal menarik yang perlu dicatat.

Baca Juga: Jelaskan Sejarah Indonesia ke Mahasiswa, Anies Baswedan Dikritik Sejarawan: Salah Maning Son

Sepanjang pemilihan presiden secara langsung, 2004 sampai sekarang, tidak banyak tokoh NU yang menjadi calon kuat.

"Bahwa kita menemukan di lapangan NU itu besar secara elektoral, pemilih dari kalangan NU itu banyak, tapi itu tidak disertai dengan lahirnya tokoh-tokoh NU yang potensial menjadi presiden," katanya.

Misalnya pada pilpres 2004, capres dari NU Hamzah Haz berpasangan dengan Agum Gumelar. Pasangan ini mendapat suara yang sangat kecil, tidak sebesar massa NU.

Dia mengartikan hal itu, bahwa pemilih NU belum tentu memilih tokoh yang berasal dari NU sendiri.

Kemudian di Pilpres 2009. Jusuf Kalla yang merupakan tokoh NU senior maju sebagai capres. Namun, Kalla tidak mendapat suara yang signifikan. Jauh di bawah suara NU itu sendiri. Artinya, masa pemilih NU punya pertimbangan sendiri yang menarik dan unik, serta independen, tidak bisa dimobilisasi begitu saja dari atas ke bawah atau top down.

Baca Juga: Tes Kepribadian: Jumlah Gambar Anjing yang Kamu Lihat Menunjukan Seberapa Dalam Pemikiranmu, Dewasakah?

“Hanya karena dia tokoh NU belum tentu publik NU memilihnya,” tukas Saiful.

Suara NU Jadi Rebutan

Sekretaris Umum (Sekum) Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi), Nasyirul Falah Amru atau Gus Falah, percaya bahwa suara dari warga NU tidak secara otomatis mendukung duet Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar karena PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) adalah bagian dari koalisi tersebut.

Gus Falah menyebutkan bahwa suara NU yang ada di PKB hanya sekitar 10 persen.

"Suara NU di PKB berapa sih, hanya 10 persen. Jumlah itu tidak akan berpengaruh sama sekali, apalagi capresnya Anies Baswedan, warga NU pasti mikir," kata Gus Falah di Jakarta, Sabtu, 2 September 2023.

Menurutnya, warga NU memiliki kecerdasan dalam menentukan pilihan politik mereka, dan mereka tidak terbatas pada satu partai politik. Gus Falah mengatakan bahwa Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak pernah memberikan instruksi kepada Nahdliyin untuk memilih salah satu partai politik, seperti PKB.

Baca Juga: 7 Cara Hilangkan Iklan di Ponsel, Bisa Digunakan di Semua Tipe HP

Ketua Tanfidziyah PBNU menegaskan bahwa PBNU memberikan kebebasan kepada Nahdliyin untuk menentukan pilihan politik mereka berdasarkan hati nurani dan kebaikan terbaik bagi bangsa dan negara.

Gus Falah meyakini bahwa koalisi Anies-Muhaimin tidak akan menggerus suara Ganjar, yang merupakan warga NU, di basis suara NU. Menurutnya, Ganjar dan Nyai Siti Atikoh (istri Ganjar), yang merupakan putri ulama NU, akan menggunakan strategi khas Nahdliyin untuk mendapatkan suara Nahdliyin.

"Segala hal terkait rutinan acara warga NU pasti Pak Ganjar akan datang. Misalnya muktamar sufi di tempatnya abah Luthfi di Pekalongan, beliau hadir. Strategi yang dilakukan oleh orang NU yaitu silaturahmi, datang berkunjung, dan mengikuti nasihat kiai," ujarnya, seperti dikutip dari Republika.

Berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, pendaftaran bakal calon presiden dan wakil presiden dijadwalkan dimulai pada 19 Oktober sampai dengan 25 November 2023.

Baca Juga: 5 Sifat yang hanya Dimiliki oleh Orang Golongan Darah AB, Apakah Kamu Salah Satunya?

Sebelumnya, PKB telah menyetujui tawaran kerja sama politik yang diajukan oleh Partai NasDem untuk menduetkan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar sebagai bakal calon presiden dan bakal calon wakil presiden dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Keputusan ini diambil setelah Rapat Pleno Gabungan DPP PKB yang berlangsung di Kantor Dewan Pimpinan Wilayah PKB Jawa Timur, Jalan Menanggal, Surabaya, pada Jumat (1/9).

Reporter Francisca Wuri Sulistyowati,ST
Editor Eneng Reni Nuraisyah Jamil