AYOJAKARTA.COM--Idul Fitri usai, tidak terasa penghujung Mei 2023 tiba, cek kalender Idul Adha akan tiba di Akhir Juni 2023. Selain kebahagiaan menyambut hari raya umat Islam, ternyata ada sejarah dari terjadinya perayaan Idul Adha. seperti apakah itu?
Perayaan Idul Adha ada karena peristiwa besar yang terjadi saat masa Nabi Ibrahim A.S. dan anaknya, Ismail A.S. Peristiwa tersebut yang menjadikan Hari Raya Idul Adha. Bagaimana awal mula peristiwa Idul Adha dan apakah ada dalil yang mendasari kisah tersebut?
Dikutip oleh ayojakarta.com melalui laman jabar.kemenag.go.id pada 30 Mei 2023, ternyata terdapat dalil yang menjelaskan awal mula Idul Adha. Peringatan Idul Adha diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah setiap tahunnya.
Baca Juga: Tata Cara Salat Idul Adha 10 Dzulhijjah Lengkap dengan Bacaan Niatnya
Berawal dari sosok Nabi Ibrahim A.S. yang mendambakan anak. Hal ini karena beliau tidak kunjung dikaruniai anak. Akhirnya doa tersebut dikabulkan oleh Allah SWT.
Lahirlah Nabi Ismail A.S. dan kebahagiaan Nabi Ibrahim A.S. ada di puncaknya. Namun, Allah SWT memberikan ujian baru bagi sosok Nabi Ibrahim A.S.
Hal tersebut bahkan ada terdapat dalam Al-Qur'an dan menjadi dalil dari Idul Adha. Seperti yang tertulis dari Al-Qur'an Surat Al-Saffat ayat 102.
"Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.' Maka, fikirkanlah apa pendapatmu?' Ismail menjawab, 'Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.'"
Baca Juga: 6 Amalan Sunnah Saat Idul Adha 10 Dzulhijjah yang Wajib Diketahui Umat Muslim
Ketika keduanya siap untuk melaksanakan perintah Allah, setan datang dan mencoba menggoda Nabi Ibrahim.
"Ibrahim, apa kata orang jika mereka tahu bahwa kamu akan menyembelih anakmu? Apa kata orang tentangmu? Apakah kamu tidak malu? Bagaimana bisa kamu menyembelih anakmu yang satu-satunya? Lihatlah, anakmu begitu lincah dan pintar. Dia adalah anugerah bagimu, mengapa kamu akan memotongnya? Jika kamu melakukannya, kamu tidak akan memiliki anak lagi seperti dia," kata Setan.
Namun, Nabi Ibrahim teguh pada tekadnya. Dia mengambil batu dan melemparnya ke setan, sambil mengucapkan "Bismillahi Allahu akbar" (Dengan nama Allah yang Maha Besar). Tindakan ini kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji, yaitu melempar jumrah.
Saat Nabi Ibrahim akan mengayunkan pisau pada leher putranya, Ismail melepaskan tali yang mengikat tangannya, agar tidak ada kesan bahwa dia dipaksa untuk berbaring. Ini menunjukkan kesabaran dan kesiapannya untuk menerima takdir Allah.
Baca Juga: Kapan Perayaan Hari Raya Idul Adha? Pemerintah Menetapkan Pada Tanggal Berikut
Namun, pada saat yang genting itu, Allah berfirman dan memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menghentikan pengorbanan tersebut.
Allah telah menguji kesetiaan dan ketaatan keduanya. Sebagai pengganti pengorbanan Ismail, Allah memberikan kambing yang besar sebagai korban.
Peristiwa ini tercantum dalam Al-Qur'an, Surah Al-Saffat, ayat 107-110.
“Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian. Yaitu kesejahteraan semoga dilimpahkan kepada Nabi Ibrahim. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Melihat tragedi penyembelihan yang tak terlupakan dalam sejarah umat manusia ini, Malaikat Jibril terkesan dan melontarkan seruan "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar."
Baca Juga: Tips Cegah Kolesterol Tinggi Gara-gara Pesta Daging Kurban Idul Adha, Jangan Lupa Sarapan Ini
Nabi Ibrahim menjawab dengan "Laailaha illahu Allahu Akbar," yang kemudian disambung oleh Nabi Ismail dengan "Allahu Akbar Walillahil Hamdu."
Pengorbanan yang besar ini menjadikan Nabi Ibrahim sebagai Nabi dan Rasul yang agung, dengan arti yang mendalam. Peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail A.S. mengajarkan pengorbanan untuk Allah SWT sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.**