AYOJAKARTA.COM – Menjadi daerah seismic paling aktif dimana memiliki 295 sesar aktif dan 5 zona subduksi yaitu, Sunda, Banda, Sulawesi Utara, Laut Maluku, dan Papua Utara, Indonesia wajar disebut rawan gempa bumi.
Selain memiliki ratusan sesar aktif, Indonesia yang berjuluk Rring of Fire', 46% panjang pantai Indonesia rentan terkena bencana.
Namun, diketahui, terdapat beberapa wilayah yang jarang diguncang gempa bumi, salah satunya adalah Semarang.
Menjadi daerah yang jaang diguncang gempa bumi, Semarang merupakan daerah yang jauh dari pusat sesar aktif yang mayoritas berada di selatan dari Pulau Jawa.
Mengingat Semarang berada di Provinsi Jawa Tengah dan terletak di bagian utara Pulau Jawa, rasanya sulit membayangkan Semarang diguncang gempa.
Namun, dikutip dari Jurnal Riset LIPI Bandung pada 2011, ditemukan sesar aktif yang berada di Semarang.
Berdasar Jurnal berjudul Identifikasi Sesar Aktif di Sepanjang Kali Garang, Semarang berdasarkan Data Geologi Permukaan oleh Edi Hidayat, Puguh Dwi Raharjo, dan Tri Hartono, ditemukan sesar yang berada di Semarang.
Faktanya, di ibukota Provinsi Jawa Tengah tersebut terdapat jalur sesar yang berarah utara-selatan dan berada sejalur dengan Kali Garang, Semarang.
Sesar Kali Garang disebutkan menjadi sesar aktif atau berpotensi aktif di masa yang akan datang karena adanya formasi batuan berumur kuarter sebagai jejak keberadaan sesar.
Apakah sesar tersebut pernah aktif di masa lalu?
Pada tanggal 19 Januari 1856, terjadi gempa bumi di daerah Semarang dengan kekuatan VI-VII MMI yang menyebabkan adanya kerusakan pada bangunan.
Data tersebut berasal dari katalog kegempaan yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Gempa bumi yang terjadi diduga terkait dengan adanya struktur sesar aktif, yaitu sesar Kali Garang.
Perlu diketahui, aktivitas sesar tidak dapat diprediksi, seperti halnya gempa bumi dan tsunami. Maka, waspadai informasi hoaks yang beredar di masyarakat dan pantau informasi kegempaan melalui jurnal atau informasi resmi dari BMKG.***