AYOJAKARTA.COM - Polisi masih menyelidiki kasus kematian satu keluarga di Kalideres Jakarta Barat yang dugaan menganut sekte tertentu semakin kuat.
Sejumlah pengamat menduga salah satu anggota keluarga Kalideres yang tewas itu mengikuti ritual tertentu.
Barang bukti baru seperti kain dengan mantra dan kemenyan yang ditemukan di rumah keluarga Kalideres memperkuat dugaan ritual tersebut.
Kombes Hengki Haryadi selaku Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya mengungkapkan dari hasil pemeriksaan korban Budianto punya kecenderungan yang dominan dan mempunyai sikap terhadap ritual tertentu.
"Salah satu dari pada anggota keluarga ini, yaitu atas nama Budianto ini cenderung dominan dan memiliki sikap yang positif terhadap ritual-ritual tertentu," kata Hengki.
Polisi menemukan dugaan ada mantra yang dituliskan kemudian mensyaratkan beberapa barang ritual tersebut ada di rumah Kalideres.
"Kemudian juga kami temukan fakta bahwa di tempat kejadian peristiwa (TKP) adanya dugaan mantra-mantra, kemudian ada kemenyan," ungkap Hengki.
"Kemudian termasuk tulisan-tulisan yang mensyaratkan adanya barang-barang tertentu dalam ritual-ritual ini," ujar Hengki.
Kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala menduga, 2 orang dengan usia yang lebih tua di keluarga Kalideres di duga meninggal secara natural.
Sementara untuk 2 orang lainnya yakni anak perempuan dan pamannya meninggal karena sengsara akibat tidak bisa menghidupi diri sendiri.
Mantra yang di temukan diduga bagian dari ritual yang di jalani keluarga ini untuk memohon kesejahteraan.
"Do'a-do'a itu adalah dalam rangka untuk mebuat mereka kesejahtera. Tapi ternyata gak berhasil," ungkap Adrianus Meliala.
"Jadi tadinya mereka masih berpengharapan, tapi kemudian mereka memang gak berhasil, maka muncul situasi yang kita sebut situasi pasrah," sambungnya.
Kemudian situasi pasrah itu yang mendorong keluarga Kalideres membuat mereka memilih untuk mengakhiri hidup.
"Nah, pasrah inilah yang kemudian lalu membuat mereka masuk dalam kematian. Karena tidak lagi mampu untuk mendapatkan makanan, tidak mampu berkomunikasi karena tadi semua jalur sudah di tutup," jelas Adrianus Meliala.***