AYOJAKARTA.COM – Pemberian Amnesti dan Abolisi kepada dua tokoh kenamaan oleh Presiden Prabowo, merupakan langkah tepat.
Selain karena proses hukum dari kedua tokoh penerima Amnesti dan Abolisi yang mendapat sorotan, peniadaan sanksi oleh Presiden Prabowo juga sangat bersifat strategis.
Bukan hanya penting bagi perspektif kebangsaan, pemberian Amnesti dan Abolisi oleh Presiden Prabowo juga dapat mempererat persatuan di seluruh kelompok bangsa.
Baca Juga: KPM PKH dan BPNT Wajib Tahu! 2 Jenis Bansos ini akan Dihapus pada Penyaluran Tahap Tiga
Karena itu munculnya narasi yang menyebut bahwa pemberian amnesti dan abolisi merupakan bentuk unjuk taring antara Prabowo dengan Jokowi; tidak perlu dianggap penting.
Pernyataan terkait motif penghapusan sanksi terhadap Hasto Kristiyanto dan Tom Lembong tersebut, merupakan pandangan M. Qodari selaku Wakil Kepala Staf Kepresidenan.
Menurut Qodari, penafsiran-penafsiran mengenai hubungan antara Prabowo, Megawati dan Jokowi tidak perlu dilihat secara terpisah.
Hubungan antara Prabowo, Megawati dan Jokowi, selain karena relasi politik dan personal, juga merupakan figur-figur pemimpin.
Sebagai seorang pemimpin yang dituntut untuk mampu menjaga nilai persatuan, langkah Presiden Prabowo memberikan amnesti dan abolisi merupakan bentuk implementatif.
Baca Juga: Azizah Salsha Kembali Viral, Zize Kepergok Bermain Padel dengan Philo Paz Sang Mantan?
Sebagai Presiden, Prabowo menurut Qodari harus dekat dan mengayomi seluruh pihak, sehingga kedekatan dengan Megawati tidak langsung diartikan jauh dari Jokowi.
Berdasarkan catatan sejarah, Qodari juga mengingatkan bahwa hubungan antara Prabowo dengan Megawati sudah berlangsung sejak era Orde Lama.
Prabowo menurut Qodari juga merupakan salah satu menteri di kabinet Jokowi yang merupakan partai tempat Jokowi berasal.
“Jadi menurut saya tidak saling terpisah, pemberian amnesti dan abolisi itu bersifat menyeluruh,” ungkap Qodari.
Qodari menambahkan saat ini Indonesia membutuhkan semangat persatuan, terlebih dalam menghadapi situasi geopolitik dunia semakin pelik dan sukar diterka.
Baca Juga: Hore! 6 Jenis Bansos Ini Tetap Disalurkan untuk Periode Bulan Agustus 2025!
Terkait adanya berbagai penafsiran yang terus dikaitkan dengan persoalan politik, Qodari menilai hal tersebut wajar dalam proses demokrasi.
Sementara menurut Ray Rangkuti yang merupakan Pengamat Politik Lingkar Madani, hubungan politik antara Prabowo, Megawati dan Jokowi lebih cenderung unik.
Mengacu pada dinamika politik selama ini, hubungan antara dua presiden purna tugas dan presiden bertugas tersebut; menurut Ray seperti sebuah segitiga.
Saat Prabowo terlihat cukup dekat dengan Jokowi, disaat bersamaan hubungan politiknya dengan Megawati sedang berjarak.
Pemberian amnesti dan abolisi terhadap tokoh-tokoh yang dinilai sebagai bagian dari lawan politik Jokowi, menurut Ray tidak sepenuhnya salah jika ditafsir publik sebagai unjuk gigi Prabowo.
“Saya kira polanya akan begitu lima tahun ini, tidak ada yang benar-benar putus juga melekat, Pak Prabowo mengayuh disana,” ujarnya dikutip Ayojakarta dari Kompas TV. ***