AYOJAKARTA.COM – Menyikapi fenomena cuaca ekstrim yang teradi di sejumlah wilayah Indonesia, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati berikan imbauan hal ini.
Ditemui usai menghadiri rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Dwikorita peringatkan tentang adanya potensi banjir besar.
Dalam keterangannya, Kepala BMKG tersebut menyebut perubahan cuaca terjadi akibat adanya seruak atau gelombang udara dingin.
Lebih lanjut, Kepala BMKG menyebut gelombang udara dingin tersebut datang dari dataran tinggi Siberia dan akan menyeruak ke Natuna dan berhenti di Jabodetabek.
“Kami memonitor melalui indeks, bagaimana udara dingin yang bertiup dari dataran tinggi Siberia itu menyeruak lewat laut Natuna dan landing di Selat Sunda, Jabodetabek,” ujarnya.
Terkait dengan terjadinya peningkatan curah hujan di Indonesia, Kepala BMKG memprediksi akan berlangsung hingga April 2025 mendatang.
Hujan lebat yang menyebabkan banjir di sejumlah wilayah Indonesia beberapa pekan belakangan, menurut Dwikorita merupakan fenomena awal.
Untuk itu, Kepala BMKG mengimbau agar seluruh masyarakat secara proaktif terus melakukan pemantauan terkait perubahan cuaca.
Selain bersumber dari berita di radio, televisi atau portal berita, publik juga dapat secara realtime menggali informasi melalui aplikasi resmi BMKG.
Pemetaan cuaca secara langsung yang dilakukan BMKG melalui aplikasi, menurut Dwikorita lebih spesifik hingga ke tingkat Kecamatan.
Baca Juga: 10 Provinsi di Indonesia Diprediksi Jadi Tujuan Wisata Akhir Tahun, Ada Tempat Tinggalmu?
Adanya peningkatan curah hujan yang dimulai pada November 2024, menurut Kepala BMKG berpotensi menyebabkan terjadinya banjir besar seperti pada tahun 2020.
“Kecenderungannya akan berlanjut hingga akhir tahun dan puncak musim hujan terutama di bulan Januari-Februari,” imbuhnya.
Namun demikian, Dwikorita menambahkan puncak musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia akan mencapai puncak pada Desember 2024.
Karena itu, Dwikorita menghmbau agar masyarakat lebih bersikap bukan hanya waspada melainkan siaga.
“Siaga bencana Hidrometeorologi akibat dari peningkatan intensitas curah hujan dari lebat bahkan sangat ekstrim, dan kita harus terus memonitor perkembangan,” tegasnya.
Menyikapi fenomena cuaca, menurut Dwikorita perlu dilakukan secara berkala karena setiap saat selalu terjadi dinamika yang berkelanjutan.
Guna mengantisipasi dampak adanya perubahan cuaca tersebut, Dwikorita menambahkan telah berkoordinasi dengan Menko PMK untuk langkah antisipasi.
Selain melibatkan sejumlah kementerian, BMKG juga terus bersinergi dengan beberapa instansi pemerintahan.
Langkah tersebut, menurut Dwikorita dipandang perlu dilakukan untuk meminimalisir dampak terburuk dari setiap perubahan fenomena alam.
“Yang saya sampaikan itu skenario terburuk, doanya tidak seperti itu,” pungkas Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.
Sebagai informasi bentuk bencana Hidrometeorologi seperti:
- Kekeringan
- Banjir
- Badai
- Longsor
- Angin Puyuh.***