AYOJAKARTA.COM- Sudah lebih digunakan oleh negara maju seperti Amerika Serikat, China hingga Jepang dan baik untuk lingkungan, mengapa kebijakan Menteri ESDM Bahlil Lahadia untuk mencampur bahan bakar minyak (BBM) dengan etanol 10% tuai kontroversi di masyarakat?
Sebagai informasi, baru-baru ini Bahlil kembali mengejutkan publik dengan pernyataannya untuk mencampur BBM dengan etinol 10% (E10).
Kebijakan yang akan dilakukan dalam kurun waktu 2-3 tahun ini menurut Bahlil selain untuk menekan impor bbm yang masuk ke Indonesia tentu bagus untuk lingkungan.
"Kita akan campur bensin dengan etanol, tujuannya agar tidak impor banyak,dan juga ramah lingkungan," ujar Bahlil.
Walaupun begitu, BBM E10 ini tetap tuai kontroversi karena beberapa dampak yang akan dirasakan.
Dikutip ayojakarta.com dari berbagai sumber, Hal ini berkaitan dengan penggunaan bahan etanol yang khawatir merusak mesin bagi motor dan mobil lama.
Etanol diketahui bersifat Korofsif dan higroskopis (menyerap air) yang bisa mempercepat karatpada tangki bahan bakar.
Lantas mengapa di negara lain bisa dijalankan?
Hal ini karena negara yang sudah menggunaka E10 sudah siap dengan penggunaak mobil "flex-fuel ready" yakni dirancang untuk etanol.
Baca Juga: Shopee Jagoan UMKM Naik Kelas, Panggung bagi UMKM Indonesia Tunjukkan Kreativitas dan Ketangguhan
Sedangkan di Indonesia sebagian besar kendaraan tidak menggunakan teknologi tersebut.
Selain itu produksi etanol yang masih mahal dikhawatirkan akan membuat harga BBM E10 jauh lebih mahal.
Edukasi kepada publik pun dinilai harus merata agar informasi disampaikan dengan jelas.
Itulah mengapa kebijakan Bahlil mengenai BBM campur etanol tuai kontroversi dan menjadi sorotan.***