AYOJAKARTA.COM -- Pemilik akun kaskus, Fufufafa yang ditengarai kuat adalah Gibran Rakabuming, diduga mengalami gangguan pada bagian otak.
Selain karena faktor psikologis, dugaan gangguan pada otak pada pemilik akun Fufufafa juga bisa disebabkan oleh aspek neurologis maupun psikiatris.
Anggapan terkait dugaan kelainan otak kepada pemilik akun Fufufafa tersebut disampaikan oleh dr. Tifauzia Tyassuma, M.SC saat menjadi narasumber di sebuah simar.
Menurut Tifa, ketiga domain penyebab gangguan tersebut dapat terlihat secara kasat mata melalui sorot mata Gibran Rakabuming sebagai terduga pemilik akun Fufufafa.
Kemunculan pertama kali di media usai Joko Widodo mengalami peningkatan karir politik dari Walikota ke Gubernur hingga Presiden, membawa dampak psikologis tersendiri.
Kemunculannya pertama kali ke media, sempat terlihat menunjukkan sikap tengil atau kurang pemahaman akan budi pekerti.
Baca Juga: Akun Fufufafa Banyak Menghina Prabowo Subianto, Dokter Tifa: Arahnya Itu ke Psikopat
Di samping karena efek kewenangan yang dimiliki sebagai Pejabat, dugaan munculnya sikap tengil menurut Tifa juga bisa disebabkan karena pola asuh dan lingkungan.
Sorot mata Gibran sebagai terduga pemilik akun Fufufafa, menurut dr. Tifa cenderung alami perubahan signifikan setelah terjun ke dunia politik.
“Dari kita kenal pertama kali di 2014, ada perbedaan yang sangat signifikan dari sorot matanya, bentuk mata, roman muka serta behavior dan fisiknya,” ungkap dr. Tifa.
Baca Juga: Tepis Isu Prabowo-Gibran Pecah Kongsi, Kaesang Pangarep Terima Tantangan Pakai Kaos 'Adik Fufufafa'?
Perubahan yang terlihat secara visual ke publik atau fenotyping, menurut dr. Tifa merupakan ekspresi adanya perbedaan situasi batin dan emosi dalam diri.
Meski belum terbukti secara klinis, penampilan yang ditunjukkan Gibran ke publik menurut dr. Tifa bisa merupakan indikasi adanya penggunaan zat terlarang atau psikotropika.
Berdasarkan pengakuan sejumlah pengguna zat adiktif yang sudah menyadari kesalahan diri, ekspresi dan sorot mata Gibran cenderung menunjukkan adanya kejanggalan.
Selain kurang bisa fokus dan konsentrasi, dampak lain penggunaan zat adiktif psikotropika terhadap tubuh seseorang adalah gejala penuaan yang lebih cepat dari usia biologisnya.
“Saya belum menyimpulkan secara medis, ini masih preasumsi, karena banyak tes yang mesti dilakukan untuk bisa memastikan,” imbuh dr. Tifa.
Berbeda dengan pengguna zat adiktif atau psikotropika yang sudah kecanduan sehingga bisa terdeteksi mudah melalui urin, pemeriksaan terhadap pengguna lawas butuh cara lain.
Adapun cara pengujian secara klinis yang dapat dilakukan untuk bisa memastikan ada atau tidaknya penggunaan psikotropika dengan menggunakan rambut.
“Kita bisa lakukan tes DNA terhadap rambut, karena pengguna psikotropika bisa terlihat dari rambut,” pungkas dr. Tifa.***