News

Antisipasi Potensi Gempa Bumi Megathrust, Ini 5 Aspek Penting Mitigasi Bencana yang Perlu Diketahui

Oleh: Karseno AJ Senin 09 Sep 2024, 14:19 WIB
Ilustrasi gempa.

AYOJAKARTA.COM — Peristiwa Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004, merupakan salah satu dampak yang timbul akibat fenomena gempa bumi Megathrust.

Termasuk sebagai salah satu negara yang berada dalam zona cincin api, menjadikan gempa bumi Megathrust menjadi fenomena biasa bagi Indonesia.

Karena bukan merupakan fenomena baru, salah satu hal terpenting dalam menghadapi potensi gempa bumi Megathrust adalah dengan mengoptimasi mitigasi.

Pengetahuan dan langkah mitigasi bencana sangat diperlukan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk meminimalisir dampak kerusakan yang timbul.

Cincin api atau ring of fire merupakan suatu kawasan di sekitar Samudera Pasifik yang dikenal karena memiliki potensi gempa bumi serta letusan gunung berapi.

Baca Juga: Benarkah Gempa M4,9 yang Guncang Bali Terjadi di Zona Megathrust? Jangan Panik, Ini Jawaban BMKG Setempat

Lempeng Indo-Australia di bagian Selatan, Lempeng Eurasia pada bagian Utara serta Lempeng Pasifik di bagian Timur merupakan tiga jenis lempeng yang mengelilingi Indonesia.

Karena menjadi wilayah pertemuan antar lempeng yang saling bertumbukan dan bertabrakan, aktivitas seismik dan vulkanik menjadi tidak terhindarkan.

Pertemuan dari kedua jenis lempeng antar benua dan samudra menghasilkan dua jenis zona Penunjaman yakni Megathrust dan Interslab atau Benioff.

Zona Penunjaman Interslab umumnya terjadi pada kedalaman lebih dari 50 kilometer, sedangkan Megathrust berada pada kedalaman kurang dari 50 Kilometer.

Karena umumnya memiliki kekuatan atau magnitudo yang besar, gempa bumi Megathrust berpotensi menghasilkan gelombang tsunami.

Baca Juga: Mentawai-Siberut dan Selat Sunda Jadi Titik Megathrust, Ini Mitigasi yang Sudah Dilakukan Pemerintah

Adapun segmentasi sumber gempa Megathrust di Indonesia, tersebar mulai dari Aceh-Andaman hingga mencapai zona Megathrust di Utara Sulawesi serta laut Filipina.

Usai BMKG merilis adanya potensi gempa bumi Megathrust di zona Selat Sunda dan Mentawai-Siberut, kewaspadaan masyarakat kini meningkat.

Hal tersebut karena pada kedua zona Megathrust tersebut termasuk dalam zona seismic gap atau berpotensi untuk melepaskan ketegangan.

Sebelum menjadi sorotan, kewaspadaan terhadap potensi adanya gempa bumi Megathrust juga sudah mencuri perhatian pada tahun 2004, 2018, 2022 serta 2024.

Berdasarkan catatan sejarah, Indonesia sudah mengalami beberapa kali peristiwa gempa bumi Megathrust pada 1833 di Sumatera dengan magnitudo mencapai 8,8.

Baca Juga: Tinggal Tunggu Waktu! Ini 16 Zona Subduksi dan Potensi Kekuatan Gempa Megathrust di Indonesia

Selain di Sumatera, gempa bumi Megathrust juga pernah terjadi di Jawa Timur dengan 7,5 Magnitudo pada 27 September 1937.

Akibat fenomena tersebut, tercatat sebanyak sekitar 2.200 bangunan rumah di wilayah Yogyakarta, Jawa Timur dan Jawa Tengah hancur.

Adapun aspek penting terkait mitigasi antara lain edukasi dan kesiapsiagaan, pembangunan infrastruktur tahan gempa, serta sistem peringatan dini.

Selain ketiga hal tersebut, aspek penting lainnya menyangkut mitigasi gempa Megathrust adalah monitoring aktivitas seismik serta simulasi dan latihan evakuasi.***

Reporter Karseno AJ
Editor Tedi Rukmana