News

Gempa Yogyakarta Tadi Malam Berpusat di Bidang Kontak Megathrust, Dirasakan Hingga Jawa Timur

Oleh: Francisca Wuri Sulistyowati,ST Selasa 27 Agu 2024, 13:58 WIB
Gempa di Yogyakarta, Senin (26/8/2024) malam.

AYOJAKARTA.COM - Gempa bumi tektonik dengan magnitudo M5,5 mengguncang Samudra Hindia, tepatnya di selatan Gunungkidul, Yogyakarta, pada Senin malam (26/08/2024) pukul 19.57 WIB.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, menyampaikan melalui cuitannya di akun X @DaryonoBMKG bahwa pusat gempa tersebut berada di bidang kontak antar lempeng (megathrust) dengan kedalaman 42 km.

Menurut analisis BMKG, episenter gempa ini terletak di laut, sekitar 107 km barat daya Gunungkidul.

Berdasarkan lokasi episenter dan kedalamannya, gempa tersebut termasuk jenis gempa dangkal yang diakibatkan oleh deformasi batuan di bidang kontak antar lempeng atau megathrust.

Baca Juga: Waspada Penyebaran Virus Mpox, Masyarakat Wajib Tahu Begini Cara Penularan dari Manusia ke Manusia

Dr. Daryono menjelaskan bahwa hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini memiliki mekanisme naik (thrust), yang merupakan ciri khas dari gempa megathrust.

Guncangan gempa ini terasa cukup kuat di beberapa wilayah di Yogyakarta, termasuk Sleman, Kulonprogo, dan Bantul, dengan intensitas III-IV MMI (Modified Mercalli Intensity).

Guncangan juga dirasakan hingga daerah Jawa Timur seperti Karangkates, Malang, Pacitan, Trenggalek, dan Kediri, serta wilayah Jawa Tengah seperti Solo, Cilacap, dan Banyumas dengan intensitas II-III MMI.

Hingga pukul 20.45 WIB, BMKG telah mencatat 11 kali aktivitas gempa susulan (aftershock), dengan magnitudo terbesar mencapai M4,0 dan magnitudo terkecil M2,6.

Baca Juga: Peneliti BMKG Ungkap Ada 13 Zona Gempa Megathrust yang Sudah Berhasil Diidentifikasi, Ini Daftar Wilayahnya di Indonesia

BMKG terus memonitor perkembangan gempa susulan ini dan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang serta mengikuti informasi resmi terkait perkembangan situasi gempa.

Gempa megathrust sendiri merupakan gempa yang berpotensi besar, karena terjadi di bidang kontak antara lempeng tektonik yang dapat menyebabkan deformasi signifikan pada kerak bumi.

Meskipun gempa ini tidak memicu peringatan tsunami, masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap potensi gempa susulan.

Potensi gempa megathrust ini terkait dengan pertemuan lempeng tektonik besar yang saling bertabrakan dan menumpuk energi seiring waktu.

Zona-zona subduksi, seperti yang terletak di sepanjang pantai barat Sumatra, selatan Jawa, hingga Bali dan Nusa Tenggara, dikenal sebagai wilayah dengan risiko tinggi terjadinya gempa megathrust.

Meski teknologi saat ini memungkinkan deteksi dini dan analisis lebih akurat, gempa bumi tetap sulit diprediksi secara pasti.

BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu memperbarui informasi terkait gempa dan tsunami melalui sumber-sumber resmi, serta memahami langkah-langkah mitigasi yang tepat untuk mengurangi dampak dari bencana alam yang mungkin terjadi.***

Reporter Francisca Wuri Sulistyowati,ST
Editor Desi Kris