News

Kenali Gejala Mpox yang Telah Ditetapkan Sebagai Kedaruratan Kesehatan

Oleh: Atiek Widyastuti Hadi Rabu 21 Agu 2024, 09:19 WIB
Beberapa kasus Mpox atau cacar monyet sebagai kedaduraratan kesehatan, kenali gejala berikut

AYOJAKARTA.COM - Penyakit cacar monyet atau Mpox saat ini tengah melanda sejumlah negara di dunia.

Terhitung sejak tahun 2022 hingga saat ini telah ada 99.176 kasus dengan 208 kematian pada penderita.

Di Indonesia sendiri sepanjang 2022 hingga 2028 telah ditemukan 88 kasus yang terkonfirmasi Mpox.

Baca Juga: Waspada Penularan Virus Mpox di Tahun 2024, Begini Kata Kemenkes

Pada dasarnya Mpox bukan penyakit baru. Penyakit yang disebabkan virus Monkeypox ini pertama kali ditemukan pada koloni kera di Denmark, 1958 lalu.

Pada tahun 1970 pertama kalinya virus ini ditemukan di manusia. Tepatnya di Republik Demokrat Kongo.

Dilihat dari gejala, cacar monyet atau Mpox mirip dengan cacar air. Meski keduanya tidak satu golongan.

Mpox disebabkan virus Monkeypox. Sedangkan cacar air diakibatkan dari infeksi virus Varicella-Zoster.

Baca Juga: Waspada! Ini Dia Ciri-ciri Orang yang Berisiko Terkena Mpox Beserta Cara Melindungi Diri dari Virus

Mpox bersifat zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia. Cacar air hanya bisa menyebar dari manusia ke manusia.

Lalu bagaimana gejala dari Mpox? Ayojakarta.com melansirnya dari laman ayosehat.kemkes.go.id, Rabu 21 Agustus 2024.

Gejala Mpox :

- Demam : > 38°C, lenting muncul setelah 2-3 hari.

Baca Juga: 4 Cara Deteksi dan Cegah Mpox (Monkey Pox) atau Cacar Monyet, Alami Gejala Ini Langsung ke Faskes Terdekat

- Penampakan Ruam : Makula, papula, vesikel, pustul. Jenis kelainan pada kulit sama pada setiap fase di semua area tubuh.

- Perkembangan Ruam : Lambat, sekitar 3-4 pekan

- Distribusi Ruam : Biasanya dimulai dari kepala. Lalu menjalar ke wajah dan anggota badan, hingga muncul di telapak tangan dan kaki.

- Penampakan Khas : Ada pembengkakan pada kelenjar getah bening.

- Kematian : 3-6 % 

Itu tadi gejala Mpox yang dapat dijadikan perhatian seluruh masyarakat Indonesia sebagai kedaruratan kesehatan.***

Reporter Atiek Widyastuti Hadi
Editor Kartika Endah Prihatin