News

Terbongkar! Rahasia Dibalik Jaringan Buzzer di Indonesia, Tarifnya Ternyata Bisa Capai Angka Fantastis

Oleh: Asti Aureli Septania Rabu 04 Jun 2025, 20:26 WIB
Jaringan buzzer di Indonesia telah menjadi kekuatan terselubung yang memainkan peran penting dalam membentuk opini publik, terutama di ranah politik dan bisnis

AYOJAKARTA.COM – Jaringan buzzer di Indonesia telah menjadi kekuatan terselubung yang memainkan peran penting dalam membentuk opini publik, terutama di ranah politik dan bisnis.

Buzzer ini digunakan untuk menciptakan tipuan opini yang memengaruhi dinamika politik dan bisnis di Indonesia.

Unggahan-unggahan yang dibuat oleh buzzer cenderung mengarah pada konten yang bersifat emosional.

Hal tersebut sebagaimana dipaparkan oleh salah satu Analis Senior Drone Emprit, Nova Mujahid, yang dikutip dari Kompas TV pada Rabu, 4 Juni 2025.

Baca Juga: Awas dibobol Rekening! Penipuan di WhatsApp Makin Marak, Kenali Modus Terbaru serta Ciri-ciri WA Kamu Disadap

“unggahan-unggahan buzzer biasanya lebih ke mengarah pada emosional gitu,” ungkap Nova Mujahid

Mereka memanfaatkan teknik psikologi massa dengan memilih kata-kata yang memicu emosi seperti kemarahan, ketakutan, atau kebencian untuk menarik perhatian dan mempengaruhi pikiran serta perasaan warganet di media sosial.

Postingan buzzer biasanya memiliki keragaman konten yang terbatas dan cenderung berfokus pada satu topik atau agenda tertentu.

Berbeda dengan akun organik yang biasanya memposting berbagai jenis konten sesuai minat pribadi atau aktivitas sehari-hari, buzzer lebih sering mengulang narasi yang sama dengan variasi kecil untuk memperkuat pesan tertentu.

“kalau semakin beragam itu semakin besar kemungkinan dia bukan bot, kemungkinan besar itu akun organic,” jelas Nova Mujahid.

Baca Juga: Dibuka Sejak 1 Juni! Pendaftaran Seleksi TNI AL 2025 untuk Lulusan SMA/SMK: Persyaratan, Tinggi Badan hingga Biaya

Cara Kerja buzzer dalam dunia politik dan bisnis

Cara Kerja buzzer dalam dunia politik dan bisnis di Indonesia biasanya berfokus pada pembentukan dan penggalangan opini publik dengan menyebarkannya di berbagai media sosial.

Dalam dunia politik, buzzer digunakan untuk mempromosikan calon atau partai tertentu dengan cara menyebarkan narasi positif sekaligus melakukan kampanye negatif terhadap lawan politik, termasuk penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Sementara, Dalam bisnis, buzzer berfungsi sebagai pemasaran digital yang mempromosikan produk atau jasa dengan cara meningkatkan viralitas dan engagement di media sosial.

Mereka menggunakan akun-akun yang terkadang palsu atau semi-otomatis untuk memperluas jangkauan pesan secara masif dan cepat.

Kolaborasi buzzer dengan influencer juga sering dilakukan untuk menambah kredibilitas dan memperluas audiens.

Baca Juga: Ibadah Sunnah Muakad yang Dicintai Rasulullah SAW, 5 Keutamaan dari Berkurban di Idul Adha

Jaringan dan Tarif Buzzer

Jaringan buzzer ini tersebar di berbagai kota seperti Jakarta, Yogyakarta, Tangerang, dan Bekasi, dan terdiri dari buzzer politik, buzzer produk, hingga agensi pemasaran digital yang menjadi simpul penggerak.

Mengenai jumlah pasukan buzzer yang digunakan, meskipun sulit mengukur secara pasti, analis menyebutkan jumlahnya bisa sangat besar, mulai dari 5.000 hingga 70.000 orang.

Namun, dalam praktiknya, yang aktif dan sering digunakan dalam kampanye biasanya adalah kelompok orang yang itu-itu saja,

Tarif yang dikenakan oleh buzzer ini bahkan mencapai angka yang signifikan, menunjukkan adanya bisnis terselubung di balik aktivitas mereka.

Baca Juga: Waspada! 72 Pasien di Indonesia Terpapar Positif Covid-19, Begini Kata Menteri Kesehatan

Jaringan buzzer di Indonesia menetapkan tarif yang bisa mencapai angka fantastis, bahkan milyaran rupiah untuk setiap proyek kampanye.

Tarif ini bervariasi tergantung jenis layanan dan durasi kampanye, misalnya membuat topik trending di platform X (dulu Twitter) dibanderol antara Rp 5,9 juta hingga Rp 12,9 juta, dengan ribuan cuitan yang dikerahkan untuk mencapai target tersebut.

Secara keseluruhan, jaringan buzzer ini merupakan ekosistem yang terorganisir, menggunakan teknologi dan metode pembayaran rumit untuk menjalankan operasi yang bertujuan memanipulasi opini publik demi kepentingan politik dan bisnis dengan tarif yang sangat tinggi dan menggiurkan bagi para pelaku di dalamnya. ***

Reporter Asti Aureli Septania
Editor Jinan Vania Barizky