AYOJAKARTA.COM - Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta telah mengeluarkan larangan bagi satuan pendidikan untuk menggelar acara perpisahan atau study tour di luar sekolah.
Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap kecelakaan maut yang menimpa bus pariwisata yang mengangkut pelajar SMK Lingga Kencana Depok di Ciater, Subang, Jawa Barat, pada Sabtu (11/5) malam.
Plt Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Purwosusilo, menyatakan bahwa larangan tersebut diberlakukan untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Baca Juga: Inilah Perbedaan Hubungan Toxic dengan Abuse atau Pelecehan, Bisa Berdampak Merusak Fungsi Otak!
Dia mengatakan pelajar di Jakarta tidak boleh kemana-mana, perpisahan hanya digelar di masing-masing sekolah menggunakan fasilitas yang ada.
"Jika ada sekolah yang melakukan di luar itu, berarti dia perlu pembinaan saya," katanya.
Larangan ini sudah diatur dalam surat edaran (SE) Nomor e-0017/SE/2024 yang dikeluarkan oleh Disdik DKI Jakarta sejak 30 April 2024.
SE tersebut menjelaskan bahwa kegiatan perpisahan siswa hanya boleh dilaksanakan di lingkungan sekolah.
Namun, Menparekraf Sandiaga Uno mengekspresikan ketidaksetujuannya terhadap edaran ini.
Melalui cuitan di akun media sosialnya, dia menyatakan bahwa pelajaran yang dapat diambil dari kecelakaan di Ciater adalah bukan perlu diperketatnya study tour, tetapi kelayakan kendaraan, fasilitas, dan sumber daya manusianya.
Diberitakan sebelumnya, kecelakaan yang menelan 11 korban jiwa tersebut disebabkan oleh rem blong.
Sopir bus, Sadira, menjelaskan bahwa kejadian berlangsung saat bus hendak menuju Depok setelah singgah di Rumah Makan Sunda Bang Jun.
"Waktu kejadian memang saya setelah habis makan sore sekitar habis magrib saya akan melanjutkan perjalanan arah ke Depok cuma rencananya kan mau singgah dulu di rest area KM 7 nah cuma pada saat di perempatan Ciater itu kan ada kendaraan lalu lalang yang keluar masukan jadi saya berhenti di situ ngerem," ujarnya.
Menurut Sadira, saat dia mencoba mengerem, dia menyadari bahwa kondisi angin rem sudah habis.
Hal ini membuatnya kehilangan kendali dan membuang setir ke kanan saat bus meluncur di turunan. Bus kemudian menabrak tebing dan kemudian terguling.
Sadira sendiri merupakan sopir bus dengan pengalaman sejak tahun 1996. Saat kecelakaan terjadi, dia tidak bisa melihat korban karena posisinya tergencet.***