News

Bikin Geleng Kepala! Daftar 5 Kasus Keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG), Terbaru Ada di Cianjur

Oleh: Muhammad Nandava Prapdhianto Kamis 24 Apr 2025, 14:35 WIB
Illustrasi. Dari data yang dihimpun hingga April 2025, tercatat setidaknya lima kasus keracunan yang diduga berkaitan dengan konsumsi MBG

AYOJAKARTA.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan sebagai upaya meningkatkan asupan gizi anak sekolah justru diwarnai sejumlah kasus keracunan massal sejak Januari 2025.

Dari data yang dihimpun hingga April 2025, tercatat setidaknya lima kasus keracunan yang diduga berkaitan dengan konsumsi makanan dari program ini.

Program MBG yang menyasar siswa dari tingkat sekolah dasar hingga menengah pertama dan atas ini bertujuan mulia.

Namun, serangkaian kejadian yang menyebabkan puluhan siswa mengalami gejala seperti mual, muntah, sakit perut, dan diare memicu kekhawatiran publik terkait keamanan dan pengawasan dalam pelaksanaannya.

Baca Juga: WOW! Daftar 5 Instansi dengan Pengunduran Diri Peserta CPNS 2024 Terbanyak, Kemendikbudristek Capai 640 Orang!

1. MAN 1 Cianjur

Kasus terbaru terjadi di Cianjur, Jawa Barat, di mana puluhan siswa MAN 1 Cianjur dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG.

Peristiwa tersebut terjadi pada Senin, 21 April 2025, dan awalnya hanya melibatkan 16 siswa.

Namun, jumlah korban meningkat menjadi 38 siswa setelah laporan tambahan diterima dari pihak sekolah.

2. SDN Dukuh 03 Sukoharjo

Sebelumnya, kejadian serupa juga terjadi di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Pada 16 Januari 2025.

Sekitar 40 hingga 50 siswa SDN Dukuh 03 dilaporkan mengalami mual dan muntah usai menyantap makanan MBG yang sedang dalam tahap uji coba.

Kepala Puskesmas Sukoharjo, Kunari Mahanani, mengonfirmasi jumlah tersebut dan menduga penyebabnya berasal dari kesalahan dalam pengolahan makanan.

Menanggapi insiden tersebut, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengatakan bahwa menu ayam marinasi yang disajikan bersama telur segera ditarik oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Baca Juga: Geger! Ada 1.967 Peserta CPNS 2024 yang Mengundurkan Diri, BKN Ungkap Penyebab dan Mekanisme Optimalisasi Formasi

3. SDN 58 Lengkese

Kasus lainnya terjadi di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, pada 26 Februari 2025.

Sebanyak 12 siswa dari tiga sekolah dasar mengeluhkan sakit perut dan sakit kepala setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.

Mereka langsung dirujuk ke Puskesmas Manggarabombang untuk penanganan medis.

Kepala Sekolah SDN 58 Lengkese, Supriadi, menyebut menu makanan yang dikonsumsi terdiri dari nasi, ikan, tahu, dan pisang.

Kepala Puskesmas setempat, Heriyanto Ali, menyatakan bahwa gejala mulai muncul hanya setengah jam setelah makanan dikonsumsi oleh siswa.

4. SD Katolik Andaluri

Di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, kasus serupa menimpa 29 siswa SD Katolik Andaluri di Waingapu pada 18 Februari 2025.

Kepala Bidang Humas Polda NTT, Kombes Pol Hendry Novika Chandra, menyatakan bahwa pihak kepolisian dan tenaga medis dari Puskesmas Waingapu segera mendatangi lokasi dan melakukan penanganan cepat.

Menurut keterangan pihak sekolah, beberapa siswa mengaku bahwa makanan yang dikonsumsi terasa basi dan tidak enak.

Setelahnya, gejala seperti mual dan muntah mulai muncul. Petugas medis memberikan perawatan di lokasi, dan seluruh siswa diperbolehkan pulang setelah kondisi mereka membaik.

Baca Juga: Santai Banget! Respons Bahlil Setelah LG Memilih 'Kabur' dari Indonesia: Hanya Pergantian Investor

5. SDN Alaswangi 2 Pandeglang

Sementara itu, keracunan massal lainnya dilaporkan di SDN Alaswangi 2, Pandeglang, Banten.

Sebanyak 28 siswa mengalami keluhan kesehatan seperti diare dan mual setelah menyantap makanan MBG pada pertengahan Februari 2025. Satu siswa bahkan harus dirawat intensif di Puskesmas Menes.

Kepala Sekolah Sariful Hayat menyampaikan bahwa laporan awal datang dari orang tua siswa pada sore hari.

Beberapa siswa mengalami gejala hingga malam dan keesokan harinya. Ia menegaskan bahwa seluruh korban telah mengonsumsi makanan MBG pada siang hari.

Meski hasil uji laboratorium pada beberapa kasus menunjukkan makanan berada dalam batas normal secara fisik dan bakteriologis, dugaan keterkaitan dengan pengolahan serta distribusi makanan terus menjadi sorotan publik.

Baca Juga: Terungkap! Ini Alasan Mengejutkan LG Batalkan Investasi Rp130 Triliun di Indonesia

Berbagai pihak kini mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya pada aspek pengawasan kualitas makanan, distribusi, dan kebersihan dalam proses pengolahan.

Program MBG sejatinya diharapkan dapat menjadi solusi menanggulangi gizi buruk serta meningkatkan konsentrasi dan kesehatan anak di sekolah.

Namun, kasus keracunan yang terjadi menandakan adanya celah dalam sistem yang perlu segera dibenahi.

Dengan rentetan kasus keracunan yang muncul, publik menantikan langkah konkret pemerintah dalam memperkuat pengawasan serta memberikan jaminan bahwa program MBG benar-benar aman, bergizi, dan tidak membahayakan kesehatan.***

Reporter Muhammad Nandava Prapdhianto
Editor Jinan Vania Barizky