AYOJAKARTA.COM – Yusril Ihza Mahendra sebagai Pakar Hukum Tata Negara turut berkomentar terkait film yang membuat gaduh masyarakat Indonesia.
Adapun film yang dimaksud yakni yang disebut film dokumenter berjudul Dirty Vote, yang mana dalam film tersebut memaparkan data-data terkait kecurangan pemilihan umum (Pemilu) 2024.
Film dokumenter Dirty Vote ini pun telah dirilis beberapa hari yang lalu, Minggu, 11 Februari 2024 di YouTube.
Dalam film dokumenter turut dibintangi oleh tiga orang yang disebut sebagai Pakar Hukum Tata Negara, yakni Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Feri Amsari.
Munculnya film dokumenter Dirty Vote tepatnya pada hari pertama masa tenang pemilu 2024, banyak menimbulkan pro dan kontra.
Baca Juga: Jusuf Kalla Sebut Film Dirty Vote Baru Ungkap 25% Kecurangan Pemilu, Sutradaranya Masih Sopan
Salah satu yang turut berkomentar pada film dokumenter Dirty Vote ini adalah juga seorang Pakar Hukum Tata Negara, yakni Yusril Ihza Mahendra.
Yusril Ihza Mahendra menyebutkan kalau film dokumenter Dirty Vote ini lebih mencondongkan tuduhannya kepada pasangan calon (paslon) nomor urut 02, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Bahkan Yusril menilai film dokumenter Dirty Vote ini sangat sedikit menayangkan terkait paslon 01 dan 03.
Sehingga menurut Ketua Umum PBB itu, film dokumenter Dirty Vote ini merupakan bentuk "propaganda" menjelang hari Pemilu 2024.
"Berbagai isu diangkat dalam film ini, antara lain ketidaknetralan para penyelenggara dan pejabat negara dalam pelaksanaan Pemilu walau tak hanya spesifik terhadap paslon Prabowo-Gibran,” ucap Yusril Ihza Mahendra.
Baca Juga: FIlm Dirty Vote Sudah Ditonton Jutaan Kali, Menparekraf Sandiaga Uno: Harus Jadi Koreksi Kita!
“Tapi porsinya lebih besar dari pasangan Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud. Bahkan, sedikit sekali tayangan tentang Amin," lanjut pakar Hukum Tata Negara.
Selain itu, Yusril Ihza Mahendra juga turut berkomentar bahwa film Dirty Vote ini bukanlah film dokumenter, melainkan kumpulan tayangan kutipan berita dan opini dari tiga pakar di dalamnya.
Pasalnya, Yusril pernah berpengalaman terlibat dalam penggarapan film, baik itu serial, action, maupun layar lebar. Namun untuk film Dirty Vote ini lebih ke pemberitaan media melalui audio visual.
"Saya melihat Dirty Vote ini adalah tidak bisa ini dikatakan sebagai film dokumenter karena menayangkan berbagai pemberitaan media melalui audio visual, kemudian tiga pakar," sebut Yusril Ihza Mahendra.***