AYOJAKARTA.COM -- Menjelang Pilpres 2024, sebuah film dokumenter berjudul 'Dirty Vote' muncul dan menjadi bahan perbincangan publik.
Film Dirty Vote menceritakan sebuah opini Pilpres 2024 yang disebut ada kecurangan dibaliknya.
Terdapat tiga sosok yang berbicara lantaran di dalam frame dokumenter film Dirty Vote, siapa saja mereka?
Baca Juga: Rocky Gerung Sebut Pilpres 1 Putaran Namun Penuh Kecurangan: Memilih Elektabilitas atau Etikabilitas
Mengutip laman Instagram @voltycyber_v2, tiga sosok di film Dirty Vote tersebut adalah Bivitri Susanti, Feri Amsari, dan Zainal Arifin Mochtar.
Mereka masuk dalam tim percepatan reformasi hukum dibawah komando Mahfud MD saat menjadi Menkopolhukam.
Ketiganya juga masuk dalam tim Kelompok Kerja Reformasi Sektor Peraturan Perundang-undangan sebagai anggota.
Di situ tertulis nama-nama anggotanya di antaranya adalah Erwin Moeslimin Singajuru Stafsus Menko Polhukam, Aminuddin Ilmar, Bivitri Susanti, Zainal Arifin Mochtar, Feri Amsari, Erasmus A.T. Napitupulu, Fitriani Ahlan Sjarif, Adam Muhsi, Refki Saputra.
Baca Juga: Wirang Birawa Minta Prabowo Subianto Tidur Nyenyak, Ada Apa? Prediksi Pilpres 2024 Ternyata…
Pertama, sosok Bivitri Susanti adalah seorang akademisi dan pakar hukum tata negara serta salah satu pendiri Pusat Studi Hukum dan Kebijakan.
Selanjutnya, Feri Amsari dikenal sebagai seorang pakar hukum tata negara, aktivis hukum, dosen, dan akademikus Indonesia dari Fakultas Hukum Universitas Andalas.
Terakhir Zainal Arifin Mochtar adalah seorang dosen, akademikus, dan pakar Hukum Tata Negara Indonesia serta aktivis yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Komite Pengawas Perpajakan di Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Ternyata dalam kelompok tim percepatan reformasi hukum ada nama akademisi Harkristuti Harkrisnowo yang sempat angkat bicara terkait Pilpres 2024.
Sebelumnya, suara akademisi yang koar-koar soal darurat demokrasi, Istana mengklaim hal tersebut sebagai partisan.
Menanggapi hal itu, beberapa akademisi marah dan tak setuju jika disebut sebagai partisan.
Lantas, benarkah film dokumenter Dirty Vote adalah lanjutan dari suara-suara para akademisi? ***