AYOJAKARTA.COM - Sampai dengan Senin pagi, Kakorlantas mencatat sebanyak 60 persen pemudik atau sekitar satu juta lebih kendaraan telah memasuki wilayah Jakarta.
Terkait dengan jumlah pemudik tahun 2025, Kapolri Jenderal Listyo Sigit mencatat sebanyak 2.178.000 merupakan pengguna jalan tol.
Mengacu pada angka tersebut, Kapolri memastikan jumlah pemudik pengguna tol mengalami peningkatan hingga mencapai 0,6 persen dibanding tahun sebelumnya.
Adapun jumlah pemudik pengguna tol di tahun 2024, menurut catatan Kapolri berjumlah sekitar 2.100.168 orang.
Guna mengantisipasi arus balik mudik, Polri beserta seluruh jajarannya telah memberlakukan sejumlah skema arus lalu lintas.
“Sampai saat ini sudah 53 persen yang masuk Jakarta dan sebelum dilakukan one way nasional, kita akan melakukan one way lokal,” jelas Kapolri.
Sehubungan dengan jumlah terjadi laka lantas selama arus mudik dan balik mudik Idul Fitri 1446 H, Kakiorlaintas mencatat sebanyak 2,600 kasus kecelakaan.
Angka tersebut menurut Kakorlantas Polri mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yang mencapai 3,728 menjadi 2,637 atau sekitar 30 persen.
“Fatalitas korban kecelakaan meninggal dunia turun 47 persen, ini data naional selama operasi Ketupat,” jelas Kakorlantas.
Sehubungan dengan fenomena arus mudik dan arus balik mudik lebaran 2025, Ellen Tangkudung selaku Pengamat Transportai Universitas Indonesia memberi tanggapan.
Menurut Ellen, salah satu catatan penting yang perlu menjadi bahan evaluasi terkait mudik lebaran 2025 adalah durasi cuti bersama.
Program Work From Anywhere atau WFA yang dicanangkan pemerintah sebelum cuti bersama, membuat aktivitas perkantoran mengalami penurunan.
Akibat kondisi tersebut, jumlah mobilitas arus mudik lebaran 2025 menjadi lebih awal dan mempengaruhi mobilitas arus logistik.
Peningkatan penggunaan kendaraan pribadi atau pengguna ruas tol, menurut Ellen turut mempengaruhi distribusi logistik.
“Hal yang perlu diperhatikan adalah soal logistik, angkutan logistik pasti terganggu karena semua fokus di kendaraan pribadi,” jelas Ellen.
Meski optimasi ruas jalan tol terbilang cukup berhasil menyediakan akses bagi pemudik, hal serupa menurut Ellen juga perlu dilakukan terhadap angkutan logistik.
Akibat konsentrasi ruas tol sejak H-10 hingga H+10 lebaran, kendaraan pengangkut logistik terpaksa menggunakan jalan arteri.
Sementara di ruas jalan arteri, tumpukan kendaraan selain diisi dengan kendaraan pribadi juga dipenuhi dengan bus pengantar pemudik.
“Banyak yang mengeluhkan soal itu, secara holistik pemerintah seharusnya melihat bahwa ada angkutan logistik yang perlu ditolong,” tegas Ellen.
Komposisi arus mudik dan balik mendatang, menurut Ellen perlu mempertimbangkan angkutan umum penumpang serta angkutan logistik. ***