AYOJAKARTA.COM -- Kasus kopi sianida yang mendakwa Jessica Wongso selama 20 tahun penjara memang saat ini ramai kembali diperbincangkan oleh banyak pihak.
Salah satunya yang gencar bersuara soal kejanggalan kasus kopi sianida Jessica Wongso ini adalah Rismon Hasiholan Sianipar atau Rismon Sianipar.
Rismon Sianipar merupakan salah satu saksi ahli digital yang hadir di persidangan kasus kopi sianida Jessica Wongso dan mengungkapkan banyak kejanggalan soal adanya dugaan rekayasa CCTV di kasus tersebut.
Sayangnya, pihak Jaksa maupun Hakim selalu mengabaikan pernyataannya di persidangan hingga mereka justru tetap membuat keputusan bagi Jessica Wongso berdasarkan CCTV yang jelas-jelas menurut Rismon sudah direkayasa.
Berbagai bukti lain pun diungkapkan Rismon belakangan ini melalui kanal YouTube pribadinya Balige Academy seperti dipantau Ayojakarta.com.
Beberapa waktu lalu, Rismon pun kembali membuka fakta baru kasus kopi sianida Jessica Wongso ini yang lagi-lagi berkaitan dengan rekaman CCTV.
Dimana menurut hasil analisa Rismon, terdapat rekayasa pada warna kopi yang terlihat dalam video rekaman CCTV dan diduga dilakukan oleh saksi ahli digital dari pihak Jaksa Christopher Hariman Rianto (CH).
Dijelaskan oleh Rismon bahwa pada tanggal 10 Agustus 2016 lalu, saksi ahli CH ditanya tentang Image Color Summarizer oleh Jaksa Hari Wibowo.
Rupanya saat dipersidangan tersebut, saksi ahli CH sudah melalukan kebohongan dengan memberikan jawaban menipu bahwa Image Color Summarizer adalah aplikasi berstandar internasional untuk forensik digital.
Padahal dijelaskan Rismon, aplikasi itu adalah web gratis yang dimanapun siapapun bisa mengakses serta menggunakannya.
Saat itu dijelaskan Rismon bahwa saksi ahli CH melakukan perbandingan warna yang juga telah melanggar kaidah ilmiah.
Baca Juga: Dianggap Bungkam dan Cari Aman di Kasus Jessica Wongso, Rismon Sianipar Singgung Peran Jaksa Agung
Yaitu dimana frame warna kopi saat disajikan Agus Triono di downscale dari 1920x1080 piksel menjadi 960x576 piksel.
Sementara dimana frame warna kopi saat diambil Sari setelah Mirna meminumnya tetap dipertahankan 1920x1080 piksel.
"Tentu perbandingan semacam ini menghasilkan hasil yang salah total!" kata Rismon seperti dikutip Ayojakarta.com dari kanal YouTube Balige Academy, Kamis (1/2/2024).
Sedangkan perbandingan yang tidak ilmiah ini merupakan rujukan bagi Toksikolog Nursamran Subandi dan I Made Agus Gelgel.
Hal ini pun menjadi catatan kejanggalan berikutnya atas kebohongan saksi ahli CH yang mengakui website gratis Image Color Summarizer sebagai standar internasional.***