AYOJAKARTA.COM -- Teror kiriman paket berisi kepala babi tanpa telinga dan tikus dengan kepala terputus, merupakan bentuk ancaman serius.
Terlepas dari siapa pelaku pengirim atau aktor inteletual di baliknya, teror kiriman paket kepala babi serta Tiikus harus diusut hingga tuntas.
Kiriman paket kepala babi serta tikus secara khusus tertuju kepada jurnalistik yang concern dengan persoalan publik, ada kemungkinan berkaitan dengan persoalan politik.
Terlebih saat dimintai tanggapan terkait dengan peristiwa tersebut, perwakilan resmi pemerintah justru memberi pernyataan yang membuat situasi tambah parah.
Sebagaimana sempat menyita perhatian, pernyataan bernada pengabaian dari Hasan Nasbi selaku Kepala Komunikasi Kepresidenan dinilai publik sangat fakir simpatik.
Disampaikan dalam sebuah siniar, seorang Kepala Komunikasi Kepresidenan menurut Roy Suryo tidak pantas memberi pernyataan yang justru sangat terkesan konyol.
Lebih lanjut Roy menilai, apa yang disampaikan oleh Hasan Nasbi selaku Kepala Komunikasi Kepresidenan merupakan representasi dari Kepala Negara sehingga perlu lebih bijaksana.
“Masalahnya itu disampaikan oleh Hasan Nasbi, seseorang yang menjadi representasi dari Istana, jadi masyarakat sekarang menilai itulah pandangan pemerintah,” jelas Roy.
Tidak mengherankan jika kemudian, menurut Roy berdasarkan hasil sebuah diskusi sampai pada kesempulan bawa Juru Bicara Kepresidenan useless atau tidak berguna.
Mengacu pada fenomena kasus gas elpiji beberapa waktu lalu serta kiriman paket ke redaksi Tempo, kualitas Jubir Kepresidenan di era Prabowo perlu dievaluasi.
“Beda sekali dengan Jubir di era pemerintah Gusdur serta Pak SBY yang sangat memahami, karena dekat dengan Presiden,” jelas Roy saat menjadi narasumber di sebuah siniar.
Berbeda dengan Roy Suryo, Lukas Luwarso selaku Ketua Aliansi Jurnalis Independen periode 1997-1999 menilai kiriman paket babi dan tikus lebih dari sekedar serius.
Esensi kiriman paket tidak wajar tersebut, menurut Lukas lebih tertuju kepada seluruh orang dengan nalar politik yang bagus serta memiliki sikap kritis.
Serangan paket yang menyasar kepada profesi jurnalistik, menurut Lukas lebh merupakan cara untuk meredup-redam kebebasan berekspresi dan menyumbat nalar politik.
Selain redaksi Tempo oleh Lukas dinilai hanya merupakan representasi, cara yang digunakan oleh Pelaku atau Pengirim biasanya hanya dilakukan Penguasa atau Mafia.
Gaya Kill The Messanger atau Menghabisi Sosok Pembawa Pesan karena tidak menyukai isi pesan yang akan disampaikan, menurut Lukas mengadaptasi film The Godfather.
“Saya kira paket ini terinspirasi oleh film itu, saat Don Vito Corleone menyuruh orang mengirimi paket Kepala Kuda yang berdarah-darah,” terang Lukas.***