AYOJAKARTA.COM -- Kiriman paket berisi kepala babi tanpa telinga serta tikus tanpa kepala ke redaksi Tempo, mendapat tanggapan dari Mantan Menkopolhukam Mahfud MD.
Menurut Mahfud MD, kiriman paket berisi kepala babi tanpa telinga serta tikus tanpa kepala merupakan bentuk teror.
Menarget secara khusus kepada jurnalis, kiriman paket kepala babi tanpa telinga serta tikus tanpa kepala menurut Mahfud MD harus segera diungkap.
Berprofesi sebagai jurnalis, seseorang bisa saja melakukan kekeliruan saat mendalami analisa atau upaya mengungkap suatu fakta yang terjadi.
Guna memastikan kondisi tersebut tidak berakibat buruk bagi siapapun, hukum telah memberikan ruang bagi pihak-pihak yang mungkin berkonflik.
Pengiriman paket berisi kepala babi tanpa telinga serta tikus tanpa kepala kepada seorang jurnalis, menurut Mahfud MD menjadi bukti adanya proses hukum yang terabaikan.
Rangkaian peristiwa teror terhadap jurnalis tersebut, menurut Mahfud sangat pantas jika dirangkum menjadi satu yaitu Keterlaluan.
Baca Juga: Diburu Tim Khusus, Penasehat Ahli Kapolri Ungkap Cara Meringkus Dalang Paket Babi dan Tikus
Meski pemilihan diksi tersebut masih tergolong halus dan masih memiliki muatan simpatik, Mahfud memberi kebebasan bagi siapapun untuk berbeda perspektif.
“Dalam negara demokrasi, kita butuh semua media itu bersikap kritis, positif dan objektif, nampaknya sekarang hanya Tempo yang masih memiliki itu,” ungkap Mahfud.
Mengacu pada derasnya hegemoni pemberitaan yang lebih didominasi oleh aspek viralitas atau dominasi algoritma, banyak media ikut terbawa arus.
Dalam melakukan proses kritik terhadap kebijakan pemerintah, media memiliki peran bukan hanya sebagai corong informasi tetapi juga penyeimbang.
Besarnya pengaruh yang dimiliki oleh media khususnya profesi jurnalis, penting bagi negara untuk bisa menjaga dan mempertahankan keseimbangan peran.
“Kita akui banyak peristiwa yang tidak tergambar jelas di masyarakat, terutama kalau menyangkut kebijakan pemerintah yang sedang berlangsung,” jelas Mahfud.
Salah satu contoh peristiwa besar yang tidak banyak mendapat porsi liputan dari kebanyakan media adalah demo penolakan pengesahan RUU TNI.
Bukan hanya terjadi di Jakarta, aksi demonstrasi hingga larut malam juga sempat terjadi di berbagai kota besar di Indonesia seperti Bandung, Surabaya, Makassar dan Medan.
Dampak dari terjadinya aksi demonstrasi tersebut, menurut Mahfud sempat mengakibatkan kobaran api akibat adanya pembakaran.
Suasana yang sedemikian panas dan penuh dengan kengerian tersebut, menurut Mahfud tidak banyak beredar di media mainstream.
Tanpa bermaksud untuk memperkeruh suasana dan menambah gaduh situasi, Mahfud menilai kondisi pengabaian semacam ini tidak sehat bagi demokrasi.
“Proses yang dilakukan diam-diam akan membahayakan perjalanan,” pungkas Mahfud.***

Share this article
Menurut Mahfud MD, kiriman paket berisi kepala babi tanpa telinga serta tikus tanpa kepala merupakan bentuk teror.