AYOJAKARTA.COM - Elektabilitas pasangan capres-cawapres Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar atau Cak Imin (AMIN) mengalami kenaikan di Pulau Jawa.
Hal ini setelah lembaga Indo Riset merilis survei berkaitan dengan elektabilitas ketiga bakal capres yakni, Anies baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo baru-baru ini.
Hasil survei menunjukkan elektabilitas Anies Baswedan mengalami kenaikan.
Baca Juga: Elektabilitas Anies Baswedan Terus Naik, Cak Imin Bawa Perubahan?
Meski begitu, survei yang dilakukan pada 11-18 September 2023 menggunakan metode multi-stage random sampling ini tetap menghasilkan jika Prabowo Subianto menempati posisi pertama.
Dilansir ayojakarta.com dari YouTube METROTV, elektabilitas Anies Baswedan mengalami kenaikan dari 22 persen menjadi 25,2 persen di bulan September.
Kemudian, Ganjar Pranowo masih stagnan dari angka 34,3 persen ke angka 34,4 persen. Hanya selisih sedikit sekali.
Sementara itu, elektabilitas Prabowo Subianto masih di posisi pertama meski mengalami penurunan, dari yang semula 38,3 persen menjadi 34,8 persen.
Meski Anies baswedan masih menempati posisi ketiga, bukan tidak mungkin perlahan dirinya akan terus naik dan menyalip kedua capres lainnya.
Kenaikan prosentase elektabilitas Anies baswedan tersebut didasari dari berbagai faktor.
Baca Juga: Survei SMRC: Elektabilitas Anies Baswedan-Cak Imin Paling Bontot Dibanding Prabowo dan Ganjar!
Peneliti Indo Riset, Roki Arbi mengatakan, elektabilitas Anies Baswedan mengalami jumlah mayoritas kenaikan di wilayah Pulau Jawa.
Seperti, Jawa Barat, jawa Tengah Jawa Timur. Kemudian, Anies juga mengalami kenaikan elektabilitas di wilayah Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Gorontalo.
Dijelaskan Roki, tren kenaikan elektabilitas Anies Baswedan salah satunya didasari dari efek deklarasi pasangan Anies Baswedan-Cak Imin (AMIN) pada 2 September lalu.
Baca Juga: Pilih Cak Imin Menjadi Cawapres, Elektabilitas Anies Baswedan Tetap di Bawah Ganjar dan Prabowo?
Deklarasi Anies Baswedan-Cak Imin diperkirakan telah menarik perhatian pemilih di Jawa, terutama di Jawa Timur, yang merupakan basis suara PKB.
Bergabungnya PKB ke koalisi pendukung Anies juga diperkirakan telah menambah kuatnya pasangan capres-cawapres Anies Baswedan-Cak Imin terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
"Efek dari deklarasi pasangan cawapres Muhaimin Iskandar dan bergabungnya PKB ke koalisi, terjadi kenaikan dukungan pemilih di Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah-DIY pada Anies Baswedan dibandingkan survei bulan lalu," jelas Roki.
Baca Juga: Menilik Elektabilitas Prabowo Subianto usai Ditinggal PKB dan Cak Imin
Dari survei yang ada, wilayah Jawa Timur dikatakan Roki menyumbang jumlah kenaikan terbesar untuk elektabilitas Anies Baswedan.
Kenaikan suara pasangan Anies-Muhaimin berasal dari suara di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
"Sumbangan yang terbesar dari kenaikan elektabilitas di Jawa timur," ungkap Roki.
Baca Juga: Sudah Gaet Cak Imin tapi Survei Elektabilitas Masih Paling Bawah, Anies Baswedan Beri Tanggapan Begini
Dengan kenaikan elektabilitas Anies di Pulau Jawa, maka persaingan Pilpres 2024 diperkirakan semakin ketat.
Anies kini bersaing ketat dengan Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo untuk menjadi capres.
Bukan tidak mungkin, elektabilitas Anies Baswedan akan semakin naik dan bisa menyalip bakal capres Prabowo Subianto dan Ganjar Prnaowo.
Baca Juga: Elektabilitas Anies Baswedan dan Muhaimin Paling Buncit versi Survei SMRC, Begini Reaksi Cak Imin
Sementara itu, Roki menyebutkan menurunnya prosentase elektabilitas Prabowo Subianto terjadi di wilayah Sumatera, Jawa Barat, Jawa timur, dan Kalimantan.
"Dapat dianalisis, penurunan lainnya didapat dari tidak ada lagi sinyal dukungan yang jelas dari presiden Jokowi (Joko Widodo)," kata Roki.
Sementara itu. angka elektabilitas Ganjar Pranowo terbilang stagnan.
Baca Juga: Setelah SMRC, Survei Voxpopuli Gambarkan Elektabilitas Anies Baswedan Konsisten di Urutan Ketiga
Hanya saja, menurut Roki ada penurunan elektabilitas Ganjar Pranowo di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, Bali dan Nusa Tenggara, Sulawesi dan Gorontalo.
"Stagnansi ini dapat dianalisis juga dari kesulitan PDIP mencari cawapres," ungkap Roki.