AYOJAKARTA.COM - Memasuki usia ke-78 Indonesia, capres Anies Baswedan menilai cita-cita kemerdekaan masih belum sepenuhnya terwujud.
Berkaca pada realitas sosial masyarakat di era kolonial dan milenial, Anies Baswedan menganggap ada perbedaan makna mengenai kemerdekaan.
Adanya pergeseran substansi kemerdekaan tersebut, menurut Anies Baswedan merupakan pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan.
Baca Juga: Jokowi Singgung Soal Tantangan Jadi Presiden, Anies Baswedan: Kemerdekaan Adalah Karya Bersama!
Pernyataan terkait dengan esensi dan permasalahan terkait makna kemerdekaan disampaikan Anies Baswedan dalam diskusi Suara Reboan.
“Merdeka pada waktu itu artinya menggulung kolonialisme, PR kita menggelar keadilan sosial dan kesejahteraan, itu PR kita,” ungkap Anies Baswedan.
Perbedaan mengenai esensi kemerdekaan seseorang dengan orang lain, merupakan fakta dan realitas sosial yang tidak bisa ditampik.
Berbagai jenis profesi dan pekerjaan yang dimiliki masyarakat akan menjadi tolok ukur dari nilai-nilai kemerdekaan.
Baca Juga: Anies Baswedan Kalah Telak hingga Tercebur saat Lomba Gebuk Bantal Lawan Ketua RT di Lingkungannya
Belum adanya pemerataan akan kebutuhan pokok serta ketidakstabilan harga di masyarakat merupakan persoalan lama yang penting untuk diselesaikan.
Selain kebutuhan pokok dan profesi, persoalan lain yang masih menjadi tolak ukur akan nilai kemerdekaan bagi masyarakat adalah minimnya lapangan pekerjaan.
Sehubungan dengan kebutuhan akan lapangan pekerjaan, terutama bagi kaum milenial Anies Baswedan memberi tanggapan.
Menurut Anies Baswedan, selain mensyukuri perkembangan dan memperbaiki kekurangan, hal lain yang perlu dilakukan menuju perbaikan adalah konsistensi pada perubahan.
Baca Juga: 78 Tahun Merdeka, Anies Baswedan Sebut Pemerataan hingga Keadilan Harus Diperhatikan
Menyikapi masih minimnya lapangan pekerjaan, Anies Baswedan menilai bahwa hal tersebut merupakan tanggung jawab negara terhadap rakyatnya.
“Kita 78 tahun merdeka, kita tahu jumlah orang yang harus makan berapa banyak, dan kita tahu berapa jumlah sawah dan kebutuhan pupuk kita,” imbuh Anies Baswedan.
Lebih lanjut, Anies Baswedan menambahkan bahwa kurangnya perhatian dari negara merupakan salah satu penyebab lahirnya polemik di masyarakat.
Belum adanya keinginan untuk melakukan perubahan, menurut Anies Baswedan merupakan salah satu kendala utama dalam mengelola negara.
Sehingga kurangnya keinginan untuk perubahan tersebut berdampak secara langsung di kehidupan masyarakat.
“Banyak proyek jalan tol yang belum tuntas, kemudian ketika ada kemauan itu jalan dan tuntas,” terang Anies Baswedan.
Anies Baswedan meyakini jika kebutuhan dasar dari setiap profesi di masyarakat lebih diperhatikan dan terpenuhi maka akan membawa perbaikan.
“Jadi saya melihat kita perlu memperhatikan mereka yang lemah, tersingkirkan, tidak mendapatkan perhatian oleh publik, dan negara harus memperhatikan,” jelas Anies Baswedan.
Baca Juga: Momen Anies Terguling Saat Ikut Lomba HUT RI Ke 78 di Lebak Bulus, Warganet: Masya Allah
Kepastian akan pola permasalahan sosial di masyarakat, menurut Anies Baswedan merupakan hal yang perlu mendapat prioritas sehingga harapan publik terwujud.
“Begitu diseriusin, bangsa Indonesia bisa kenyang, badan, mental, rohaninya sehat, kantongnya cukup,” pungkas Anies Baswedan.
Demikian dikutip Ayojakarta pada Jumat, 18 Agustus 2023 dari YouTube Metro TV.***